RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Rantau – Kebakaran lahan di Sungai Rutas Hulu, Kecamatan Candi Laras Selatan, tidak hanya menyisakan lahan terbakar. Kebun cabai milik warga ikut terdampak. Sekitar 10 ribu batang cabai dilaporkan hangus dalam kejadian tersebut.
Kepala Dinas Pertanian Tapin Mohammad Triasmoro mengatakan, lokasi kebun cabai yang terbakar tersebut berada di luar kawasan Desa Hiyung. Meski demikian, tanaman cabai yang terdampak merupakan bagian dari aktivitas pertanian masyarakat setempat.
“Yang terbakar kemarin memang di luar area Desa Hiyung,” ujarnya, Senin (14/9/2026).
Berdasarkan data BPBD Tapin, kebakaran di Sungai Rutas Hulu, di mana api membakar sekitar tiga hektare lahan.
Dari luasan tersebut, sekitar 2,5 hektare merupakan semak belukar. Sementara 0,5 hektare lainnya merupakan kebun cabai milik warga.
Dampaknya cukup besar bagi petani. Total, sekitar 12.800 lebih batang tanaman cabai ikut terbakar.
Triasmoro mengatakan, persoalan ketersediaan sumber air menjadi salah satu perhatian dalam menghadapi ancaman kebakaran lahan di kawasan pertanian. Untuk Desa Hiyung, sejumlah titik sudah memiliki sumur bor.
“Untuk di Hiyung memang sudah ada sumur bor di beberapa titik. Termasuk sumur bor besar dari Dinas PUPR,” katanya.
Namun, kondisi berbeda masih terjadi di kawasan Sungai Rutas. Menurutnya, fasilitas sumber air berupa sumur bor di wilayah tersebut masih belum tersedia secara memadai.
Karena itu, Dinas Pertanian Tapin berencana mengusulkan penganggaran sumur bor untuk kawasan tersebut.
“Yang di Sungai Rutas ini yang belum. Ke depannya coba dianggarkan juga untuk sumur bor,” jelasnya.
Ketersediaan sumber air dinilai penting, bukan hanya untuk kebutuhan pertanian, tetapi juga sebagai salah satu langkah antisipasi ketika terjadi kebakaran lahan.
Terlebih, kebun cabai yang berada berdekatan dengan lahan semak dan kawasan yang mudah terbakar memiliki risiko terdampak apabila api meluas.
Selain persoalan sarana air, pemerintah daerah juga membuka peluang memberikan bantuan kepada petani yang tanaman cabainya terbakar.
Triasmoro menyebutkan, bantuan tersebut sudah direncanakan. Namun, pelaksanaannya belum dapat dilakukan dalam waktu dekat dan kemungkinan baru direalisasikan pada tahun depan.
“Memang ada rencana bantuan, tapi belum bisa sekarang. Kemungkinan tahun depan bantuan ini bisa diberikan, untuk mengganti pohon cabai Hiyung yang terbakar,” pungkasnya.
Rencana tersebut diharapkan dapat membantu petani kembali menata kebunnya setelah mengalami kerugian akibat kebakaran.
Di sisi lain, penguatan fasilitas sumber air di kawasan pertanian juga menjadi pekerjaan penting. Sebab, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar.
Ketersediaan sumber air di titik rawan, akses pemadaman, serta kesiapsiagaan petani dan masyarakat menjadi bagian penting untuk mencegah kejadian serupa kembali merusak lahan pertanian.
Editor : Sutrisno