RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru — Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel) mematangkan langkah strategis untuk mengikis ketergantungan pada sektor ekstraktif.
Pembangunan daerah kini resmi diarahkan pada transformasi ekonomi berbasis nilai tambah yang menyeimbangkan aspek pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan sosial.
Kepala Bappeda Kalsel, Suprapti Tri Astuti, menegaskan bahwa pemerintah daerah terus mendorong penguatan sektor-sektor produktif baru.
"Strateginya adalah mengarahkan transformasi ekonomi dari ketergantungan terhadap sektor ekstraktif menuju sektor yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi," ujar Suprapti.
Ia menjelaskan, pemprov berfokus mendorong pengembangan agroindustri, hilirisasi, penguatan UMKM, serta peningkatan kualitas SDM.
Seluruh pengembangan industri tersebut dipastikan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan secara ketat agar tidak menimbulkan dampak negatif di kemudian hari.
Guna mengoptimalkan potensi daerah secara merata, Pemprov Kalsel membagi peta pembangunan ke dalam tiga klaster wilayah strategis.
Kawasan Banjarbakula diarahkan sebagai pusat pertumbuhan metropolitan, kawasan Banua Enam diproyeksikan menjadi lumbung pangan dan agribisnis, sementara kawasan Saijaan-Bersujud difokuskan sebagai sentra hilirisasi dan logistik.
"Pendekatan tersebut harus disertai dengan pengendalian dampak lingkungan, perlindungan kelompok rentan, peningkatan pelayanan dasar, dan pelibatan masyarakat," tegas Suprapti.
Melalui integrasi strategi tersebut, investasi dan pembangunan infrastruktur di Kalsel diharapkan tidak sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi semata.
Kebijakan ini diyakini mampu menciptakan manfaat ekonomi yang nyata sekaligus memberikan dampak sosial yang lebih luas bagi seluruh lapisan masyarakat.