ULM Kembangkan Biofoam dari Tandan Sawit

Nurhidayat • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 11:07 WIB
INOVATIF: Biofoam berbasis tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang dikembangkan tim peneliti ULM sebagai alternatif material kemasan pangan ramah lingkungan.
INOVATIF: Biofoam berbasis tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang dikembangkan tim peneliti ULM sebagai alternatif material kemasan pangan ramah lingkungan.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengembangkan biodegradable foam (biofoam) berbasis tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai alternatif material kemasan pangan yang lebih ramah lingkungan.

Inovasi tersebut dikembangkan tim peneliti ULM melalui pendanaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek RI) dalam skema Program Hilirisasi Riset Prioritas – Pengujian Model dan Prototipe Tahun 2026.

Biofoam memanfaatkan serat TKKS sebagai bahan penguat yang dipadukan dengan pati tapioka sebagai matriks biopolimer. Material kemudian dibentuk menggunakan teknologi thermopressing untuk menghasilkan struktur ringan yang berpotensi digunakan sebagai kemasan pangan.

Ketua tim pelaksana, Prof. Agung Nugroho, S.TP., M.Sc., Ph.D., mengatakan pengembangan tahun ini diarahkan agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium. Prototipe yang dihasilkan juga diuji dalam penggunaan nyata sebagai kemasan.

“Kami ingin pengembangan biofoam tidak berhenti pada keberhasilan membuat material di laboratorium. Prototipe juga perlu diuji dalam penggunaannya sebagai kemasan,” ujarnya.

Menurut Agung, pengujian tersebut penting untuk mengetahui bagaimana karakteristik biofoam ketika berinteraksi langsung dengan produk yang dikemas. Karena itu, tim mengaplikasikan biofoam untuk mengemas sejumlah produk pangan, seperti sayuran, buah-buahan, dan daging. Selama penyimpanan, kondisi produk diamati melalui sejumlah parameter, antara lain perubahan bobot, warna, tekstur, kadar air, serta kondisi fisiknya. Pengujian ini dilakukan untuk melihat kesesuaian biofoam dalam menjalankan fungsi perlindungan terhadap berbagai jenis pangan.


Pengembangan biofoam juga dilatarbelakangi persoalan limbah biomassa dari industri kelapa sawit. TKKS yang selama ini memiliki nilai ekonomi relatif rendah memiliki potensi untuk diolah menjadi material bernilai tambah.

Selain menawarkan alternatif kemasan, pemanfaatan TKKS menjadi biofoam mendukung konsep ekonomi sirkular. Biomassa yang dihasilkan dari proses industri dapat dimanfaatkan kembali menjadi bahan baku produk baru.

“Produk yang dikembangkan tidak cukup hanya memiliki karakteristik material yang baik, tetapi juga harus mampu menjalankan fungsi yang diharapkan oleh calon pengguna,” jelas Prof Agung.

Sebelum menjadi prototipe, TKKS melalui sejumlah tahapan preparasi, mulai stabilisasi bahan, pengecilan ukuran, penyaringan hingga pengeringan. Serat kemudian diformulasikan bersama pati tapioka dan bahan pengikat sebelum dicetak menggunakan teknologi thermopressing.

Tim selanjutnya melakukan pengujian terhadap karakteristik fisik dan mekanik, morfologi material, daya serap air hingga biodegradabilitas. Hasil pengujian menjadi dasar untuk menentukan prototipe biofoam yang akan dikembangkan lebih lanjut.

Prof Agung menjelaskan, riset tersebut merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya terkait formulasi biofoam berbasis pati dan serat alami, penggunaan polyvinyl alcohol sebagai bahan pengikat, serta pemanfaatan serat kelapa sawit sebagai bahan pengisi dan penguat.

Dalam kegiatan tahun 2026, tim tidak hanya berfokus pada pengembangan material, tetapi juga mendorong hasil riset semakin dekat dengan kebutuhan pengguna dan peluang penerapan di industri.

Tim pelaksana terdiri dari Prof. Agung Nugroho, S.TP., M.Sc., Ph.D. sebagai ketua, serta Zuliyan Agus Nur Muchlis Majid, S.TP., M.T. dan Alan Dwi Wibowo, S.TP., M.T. sebagai anggota.

Melalui Program Hilirisasi Riset Prioritas – Pengujian Model dan Prototipe Tahun 2026, tim ULM berharap biofoam berbasis TKKS dapat terus disempurnakan hingga memiliki peluang penerapan yang lebih luas. Inovasi tersebut sekaligus menunjukkan potensi biomassa kelapa sawit sebagai sumber bahan baku produk hilir bernilai tambah, sekaligus mendukung pengembangan material kemasan yang lebih berkelanjutan.

Editor : Nurhidayat
inovasi banjarmasin ULM peneliti