RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Martapura – Upaya mencegah komplikasi kehamilan diperkuat melalui pemberdayaan kader kesehatan di Desa Sungai Alang, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar. Sebanyak 15 kader dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk membantu mendeteksi dini kehamilan berisiko, khususnya preeklamsia.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) dilaksanakan di Posyandu Mawar Desa Sungai Alang , Jumat (3/7/2026) lalu. Kegiatan bertujuan meningkatkan kapasitas kader agar dapat berperan lebih aktif dalam mendampingi ibu hamil di lingkungan masyarakat.
Tim Pengabmas yang terdiri dari 3 dosen yakni Erni Yuliastuti,S.Si.T.,M.Kes
Rafidah, S.Si.T.,M.Kes dan
Nur Rohmah Prihatanti,SST.,M.Keb. serta 3 mahasiswa Aulia Safitri, Marsha Hidayah, dan Reza Novianti melakukan koordinasi dan perizinan dengan Puskesmas Karang Intan 2, Pemerintah Desa Sungai Alang, serta bidan desa.
Pada tahap awal, kader diajak berdiskusi untuk mengetahui pemahaman mengenai deteksi dini kehamilan berisiko, terutama preeklamsia. Hasil evaluasi awal menunjukkan masih terdapat kader yang belum memahami secara optimal cara mengenali risiko preeklamsia pada ibu hamil.
Kondisi tersebut menjadi dasar pemberian edukasi dan pelatihan. Materi meliputi deteksi dini faktor risiko kehamilan, pengenalan tanda hipertensi dan preeklamsia, serta upaya pencegahan komplikasi kehamilan.
Edukasi didukung media PowerPoint, leaflet, booklet, dan Buku KIA. Metode ceramah dan tanya jawab diterapkan untuk meningkatkan pemahaman kader. Para kader juga aktif mengikuti kegiatan dan menyampaikan pertanyaan terkait kondisi preeklamsia pada ibu hamil.
Ketua Tim Pengabmas, Erni Yuliastuti, mengatakan penguatan kapasitas kader penting karena kader merupakan salah satu pihak yang dekat dengan ibu hamil dan keluarga di lingkungan masyarakat.
“Harapannya, setelah mendapatkan edukasi dan pelatihan, kader tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu mengenali faktor risiko dan memberikan edukasi kepada ibu hamil serta keluarga. Jika ditemukan kondisi yang memerlukan perhatian, kader dapat mendorong ibu hamil segera memeriksakan diri kepada tenaga kesehatan,” ujarnya.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader setelah mengikuti edukasi dan pelatihan. Jumlah kader dengan pengetahuan kategori baik meningkat dari sebelum kegiatan menjadi 13 orang setelah pelatihan. Sementara itu, kader dengan kategori pengetahuan cukup berkurang menjadi 2 orang. Tidak terdapat kader dalam kategori pengetahuan kurang baik.
Menurut Erni, peningkatan pengetahuan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi kader dalam menjalankan perannya secara berkelanjutan. Melalui upaya pre eklampsia support ini nantinya para kader akan mampu melakukan deteksi dini kehamilan berisiko khusunya risiko pre eklamsia sehingga dapat diberikan penatalaksanaan secara dini pada kehamilannya . Mereka juga akan lebih percaya diri dalam memberikan KIE karena sudah dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup melalui pre eklamsia support.
“Kader memiliki posisi strategis dalam menyampaikan komunikasi, informasi, dan edukasi kesehatan. Karena itu, peningkatan pengetahuan dan pendampingan perlu terus dilakukan agar mereka semakin percaya diri dalam mendampingi ibu hamil di masyarakat,” tambahnya.
Melalui penguatan kapasitas kader secara berkelanjutan, Desa Sungai Alang diharapkan semakin siap mendukung ibu hamil memperoleh informasi, pendampingan, dan akses pemeriksaan kesehatan secara tepat waktu.
Kolaborasi pemerintah desa, puskesmas, bidan, kader, ibu hamil, dan keluarga diharapkan dapat memperkuat upaya promotif dan preventif sehingga risiko komplikasi kehamilan, khususnya preeklamsia, dapat diantisipasi sejak dini.
Editor : Nurhidayat