RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, MARTAPURA - Krisis air bersih akibat kemarau di Kabupaten Banjar semakin meluas. Hingga 6 September 2026, kekeringan telah berdampak pada 52 desa di 15 kecamatan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar mencatat, sebanyak 2.056.950 liter air bersih telah didistribusikan ke wilayah yang mengalami keterbatasan air.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar Wasis Nugraha mengatakan, penyaluran air terus dilakukan secara bertahap. Pemantauan kebutuhan masyarakat juga masih berlangsung.
“Air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat,” kata Wasis.
Karena itu, BPBD terus memantau kondisi di lapangan dan menyalurkan bantuan ke wilayah yang membutuhkan.
“Kami melibatkan unsur terkait di lapangan,” ujarnya.
Terbaru, Minggu (6/9), BPBD kembali mengerahkan satu unit armada tangki ke Kecamatan Beruntung Baru.
Sebanyak 5.000 liter air bersih disalurkan ke Desa Babirik dan Desa Muara Halayung untuk mengisi lima tandon penampungan masyarakat.
Distribusi kemudian dilanjutkan ke Desa Salat Makmur. Sebanyak 5.000 liter air disalurkan untuk mengisi empat tandon dan tempat penampungan air milik warga.
Total distribusi pada hari itu mencapai 10.000 liter. Penyaluran turut melibatkan personel Polri dan Relawan Combat.
Wasis memastikan BPBD tetap siap menyalurkan air bersih ke desa lain yang mengalami krisis.
“Tandon sudah dipinjam pakaikan ke desa yang krisis air,” katanya.
Karena persediaan tandon milik BPBD telah digunakan, desa yang membutuhkan bantuan diminta menyiapkan tempat penampungan sendiri.
“Kalau desa ingin mengajukan, diharapkan menyiapkan dulu tandonnya atau tempat penampungan air lainnya,” ujarnya.
“BPBD siap untuk dropping airnya,” lanjut Wasis.
Air Ada, tapi Asin
Meluasnya krisis air di Kabupaten Banjar tidak selalu disebabkan sumber air yang mengering. Di Kecamatan Aluh-Aluh, misalnya, air masih tersedia. Namun, kualitasnya menjadi persoalan.
Camat Aluh-Aluh Aditya Yudi Dharma mengatakan, air di wilayahnya semakin asin akibat pengaruh pasang air laut.
“Airnya sebenarnya masih ada. Tetapi sekarang asinnya luar biasa,” kata Aditya.
“Sudah seperti air pantai,” lanjutnya.
Kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan mendapatkan air yang layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Persoalan tidak hanya menyangkut kebutuhan air untuk minum dan memasak, tetapi juga mandi dan mencuci.
Menurut Aditya, kondisi air asin tahun ini terasa lebih berat dibanding sebelumnya. Pengaruh pasang air laut membuat air asin masuk ketika masyarakat masih membutuhkan sumber air.
Hampir seluruh sumur di wilayah tersebut ikut terdampak.
“Sumur-sumur di wilayah kami rata-rata asin,” ujarnya.
“Sumur bor pun kualitas airnya sudah terpengaruh,” lanjut Aditya.
Kondisi itu membuat warga harus mengandalkan pasokan air dari luar wilayah. Distribusi air bersih menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Di Aluh-Aluh, bantuan air juga dilakukan melalui kolaborasi BPBD dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III dan unsur terkait lainnya.
Tiga Hari Bertambah Empat Desa
Data BPBD menunjukkan dampak kekeringan meluas dalam tiga hari.
Per 3 September 2026, kekeringan tercatat berdampak pada 48 desa di 13 kecamatan. Saat itu, total distribusi air bersih mencapai 1.924.150 liter.
Hingga 6 September, jumlah wilayah terdampak meningkat menjadi 52 desa di 15 kecamatan. Artinya, dalam tiga hari terdapat tambahan empat desa dan dua kecamatan yang terdampak kekeringan.
Volume air bersih yang telah didistribusikan juga bertambah 132.800 liter menjadi 2.056.950 liter.
Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih masih menjadi kebutuhan penting di sejumlah wilayah Kabupaten Banjar selama kemarau berlangsung.
“Proses distribusi kami dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap air bersih,” pungkas Wasis. (*)
Editor : M. Ramli Arisno