RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU - Dari sisi komersial dan nilai tambah, KEK Setangga diproyeksikan memberi dampak ekonomi melimpah hingga 2030 mendatang. Sektor yang dikembangkan meliputi pengolahan nikel atau smelter, CPO dan turunannya, pabrik karet, plywood, besi, pergudangan, hingga pusat penelitian dan pengembangan.
Berdasarkan kajian Bappeda Kalsel, potensi nilai ekspor KEK Setangga hingga 2030 diperkirakan mencapai Rp10,30 triliun dari komoditas nickel matte, Rp1,13 triliun dari sektor besi, Rp349,32 miliar dari karet, dan Rp4,35 miliar dari plywood.
Selain ekspor, kawasan ini berpotensi menekan angka impor nasional lewat nilai substitusi impor biodiesel sebesar Rp12,27 triliun serta fraksinasi mencapai Rp2,64 triliun.
Di sisi lain, KEK Mekar Putih diarahkan untuk merambah industri energi dan kimia modern. Sektor potensial yang digarap meliputi synthetic gas, semi-coke, karbon aktif, pengolahan pasir silika, hingga hilirisasi smelter nikel untuk mendukung pasokan bahan baku baterai kendaraan listrik.
Pengembangan masif di wilayah timur Kalsel ini diharapkan tidak hanya melipatgandakan PDRB daerah, tetapi juga efektif pemerataan ekonomi serta mengurangi ketimpangan antarwilayah. (she/al/ris)