Minat Menulis Pelajar HSU Masih Rendah, Terungkap Saat Ini

M Akbar Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 11:24 WIB
Sosialisasi bahaya narkoba dan penyerahan hadiah Lomba Artikel Bahaya Narkoba tingkat pelajar dan mahasiswa di Gedung Agung Setda HSU, Senin (7/9/2026). (Foto: M Akbar/Radar Banjarmasin)
Sosialisasi bahaya narkoba dan penyerahan hadiah Lomba Artikel Bahaya Narkoba tingkat pelajar dan mahasiswa di Gedung Agung Setda HSU, Senin (7/9/2026). (Foto: M Akbar/Radar Banjarmasin)

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Amuntai – Minat mahasiswa dan pelajar di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) untuk menuangkan gagasan melalui tulisan masih tergolong rendah. Kondisi itu terlihat dari minimnya animo peserta dalam Lomba Artikel Bahaya Narkoba tingkat mahasiswa dan pelajar SMA sederajat yang digelar Pemerintah Kabupaten HSU.

Bahkan, proses seleksi lomba tersebut sempat diperpanjang karena jumlah peserta belum sesuai harapan. Padahal, di tengah ancaman penyalahgunaan narkotika, keterlibatan generasi muda dalam menyuarakan bahaya narkoba dinilai penting.

Hal itu disampaikan Kabid Ekososbud HSU, Hatmiati dalam kegiatan Sosialisasi Bahaya Narkoba sekaligus penyerahan hadiah lomba artikel di Gedung Agung Setda HSU, Senin (7/9/2026).

Hatmiati menegaskan, persoalan narkoba harus dilawan bersama. Generasi muda dinilai memiliki peran penting untuk menyampaikan pesan pencegahan melalui berbagai cara, termasuk tulisan.

"Kita terpuruk karena narkoba, maka lawan," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) HSU Amberani, menyoroti pentingnya menghidupkan kembali tradisi menulis di kalangan pelajar dan mahasiswa. Kemajuan teknologi, menurutnya, jangan sampai membuat generasi muda kehilangan kemampuan berpikir kritis. "Jangan malas berpikir agar Anda bisa kritis dan terbuka," pesannya.

Menurut dia, menulis tidak sekadar menyusun kata, tetapi juga melatih kejujuran, kemampuan menganalisis persoalan, serta keberanian menyampaikan gagasan berdasarkan fakta.

Dalam dunia ilmiah, lanjutnya, kejujuran menjadi prinsip utama. Kesalahan dalam proses berpikir dan menulis masih dapat diperbaiki, tetapi kebohongan tidak dapat dibenarkan.

"Menulis merupakan kejujuran kita. Salah itu boleh, tetapi berbohong merupakan sikap yang sangat tidak baik," katanya.

Ia menilai tradisi menulis perlu terus ditingkatkan agar mahasiswa dan pelajar terbiasa menganalisis berbagai kasus maupun isu yang berkembang di lingkungan mereka. Kemampuan analisis tersebut juga menjadi bekal penting dalam menghadapi persoalan sosial, termasuk penyalahgunaan narkotika.

"Ketika analisis mandek, itu menjadi peluang Anda untuk tersingkir," katanya.

Di sisi lain, persoalan narkoba di HSU dinilai masih membutuhkan perhatian serius. Ia menyebut hampir 70 persen warga binaan di lembaga pemasyarakatan (LP) HSU merupakan narapidana yang terlibat kasus narkoba.

Pemerintah daerah juga telah menjalankan upaya rehabilitasi bagi warga yang terdampak penyalahgunaan narkoba. Selama dua tahun terakhir, sekitar 40 orang telah mendapatkan fasilitas rehabilitasi.

Namun, kebijakan rehabilitasi tersebut tidak berlaku bagi seluruh pelaku. Mereka yang berperan sebagai kurir maupun pengedar tetap diproses sesuai ketentuan hukum.

Untuk korban penyalahgunaan dan pengguna yang memenuhi kriteria rehabilitasi, pemerintah memfasilitasi pemulihan melalui pusat rehabilitasi BNN di Tanah Merah, Kalimantan Timur.

Dalam lomba artikel tersebut, kategori pelajar SMA sederajat dimenangkan Abdul Basit dari MA Asy-Syafi'iyah Alabio. Ia meraih juara pertama melalui artikel berjudul Berkata Tidak pada Narkotika: Membaca Ulang Strategi Ilmiah Remaja Menghadapi Godaan Zat Adiktif.

Sementara kategori mahasiswa dimenangkan Afriza Fadilah dari STAI Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai. Ia menjadi juara pertama lewat artikel berjudul Ketahanan Berlapis: Membangun Kampus sebagai Garda Pencegahan Narkotika di Hulu Sungai Utara.

Editor : M Oscar Fraby
narkoba HSU BNN