RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Astambul – Upaya mencegah hipertensi di tingkat keluarga dilakukan melalui pemberdayaan kader kesehatan dan pemanfaatan teknologi digital di Desa Pasar Jati, wilayah kerja Puskesmas Astambul, Kabupaten Banjar, beberapa waktu lalu.
Kegiatan ini melibatkan tim Dosen dari Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin, yakni Bisepta Prayogi, S.Kep., Ns., M.Kep, Dr. H. Andi Parellangi, S.Kep., Ners., M.Kep., M.H, Ainun Sajidah, S.Kep., Ns., M.Biomed, dan Meggy Wulandari Kai, S.Tr.Kep., M.Tr.Kep. serta mahasiswa: Karina Meisya, Muhammad Nabil dan Siti Afifah.
Kegiatan ini diikuti 22 peserta yang terdiri dari 11 kader kesehatan dan 11 peserta yang memiliki anggota keluarga dengan hipertensi.
Rangkaian kegiatan mencakup edukasi mengenai hipertensi dan faktor risikonya, deteksi dini, pemantauan tekanan darah, pola makan sehat, pembatasan konsumsi natrium, aktivitas fisik, pengendalian stres, serta pencegahan komplikasi.
Peserta juga diperkenalkan dengan aplikasi digital Katupat sebagai media pendukung edukasi dan pemantauan kesehatan. Selain mendapatkan materi, peserta mengikuti pelatihan dan praktik pengukuran tekanan darah yang diharapkan dapat diterapkan dalam pemantauan sederhana di rumah maupun kegiatan kesehatan masyarakat.
Bisepta Prayogi selaku Ketua Tim mengatakan, keterlibatan kader dan keluarga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan hipertensi karena perubahan perilaku sehat perlu dilakukan secara berkelanjutan.
“Pencegahan hipertensi tidak cukup hanya melalui edukasi. Kader dan keluarga perlu memiliki pengetahuan serta keterampilan untuk melakukan pemantauan dan menerapkan perilaku hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta. Pada kelompok kader, kategori pengetahuan baik meningkat dari 72,73 persen sebelum kegiatan menjadi 90,91 persen setelah kegiatan. Sementara kategori kurang turun dari 9,09 persen menjadi nol persen.
Pada kelompok keluarga, peserta dengan pengetahuan baik meningkat dari 45,45 persen menjadi 72,73 persen. Kategori kurang yang sebelumnya mencapai 18,19 persen juga turun menjadi nol persen.
Menurut Bisepta, pemanfaatan aplikasi Katupat diharapkan dapat membantu peserta mengakses kembali informasi yang telah diberikan sekaligus mendukung pemantauan kesehatan.
Meski terjadi peningkatan pengetahuan, kegiatan ini belum dapat menyimpulkan bahwa penggunaan aplikasi secara langsung menurunkan tekanan darah karena belum tersedia data tekanan darah longitudinal yang lengkap.
Program lanjutan disarankan melalui pendampingan berkala, penguatan literasi digital, serta pemantauan tekanan darah dan faktor risiko secara berkelanjutan.
Editor : Nurhidayat