RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Paringin - Gemerlap pembangunan dan akses fasilitas dasar di Kabupaten Balangan rupanya belum menyentuh seluruh pelosok.
Hingga saat ini, sebanyak 161 jiwa yang bermukim di Dusun Bayur, Desa Tundakan, Kecamatan Awayan masih harus hidup dalam belenggu kegelapan karena tak kunjung terjangkau aliran listrik dari Perusahaan Listrik Negara.
Ketiadaan infrastruktur kelistrikan ini memaksa warga setempat mencari jalan keluar secara swadaya.
Saban sore menjelang malam, deru mesin genset diesel rakitan yang kerap disebut warga sebagai mesin domping menjadi satu-satunya harapan untuk menerangi puluhan rumah mereka.
Tanpa mesin bertenaga bahan bakar solar tersebut, kawasan yang berjarak sekitar enam kilometer dari pusat desa ini dipastikan gulita.
Waktu operasional genset komunal ini pun sangat terbatas, yakni hanya menyala selama empat jam mulai pukul 18.00 Wita hingga 22.00 Wita. Setelahnya, warga yang tidak memiliki panel surya mandiri atau genset pribadi terpaksa mengakhiri seluruh aktivitas malam mereka karena pemukiman kembali ditelan gelap.
Derita krisis listrik ini diungkapkan oleh Muhammad, salah seorang warga sekaligus anggota Linmas Desa Tundakan. Ia menceritakan betapa sulitnya warga menikmati fasilitas teknologi seperti alat komunikasi, pompa air, hingga barang elektronik lainnya karena durasi listrik yang sangat terbatas.
"Sudah sering kami usulkan, namun sampai sekarang belum ada kabar akan adanya aliran listrik PLN. Padahal kami mau saja bayar," keluh Muhammad.
Ia menambahkan bahwa untuk menghidupkan genset tersebut, warga harus merogoh kocek patungan berkisar lima belas ribu hingga dua puluh ribu rupiah setiap minggunya guna membeli solar. Selain beban biaya harian, warga juga harus menanggung risiko bahaya dari instalasi kabel serabutan yang ditarik antar rumah tanpa standar keamanan ahli kelistrikan.
"Ada rasa iri dengan desa lain, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin mengajukan namun tidak diterima. Bahkan sudah pernah mengusulkan," bebernya seraya berharap
pemerintah daerah segera memperbaiki jalan akses dan memasukkan jaringan listrik PLN ke dusun mereka.
Jeritan warga Dusun Bayur yang merasa dianaktirikan ini sejatinya telah berulang kali diperjuangkan oleh aparatur pemerintah desa setempat melalui berbagai forum perumusan kebijakan. Kendati jalan terjal dan rusak kerap menjadi alasan klasik, perangkat desa tidak pernah lelah menyuarakan pemenuhan hak warganya.
Kepala Desa Tundakan, Safii membenarkan bahwa permohonan jaringan listrik untuk Dusun Bayur selalu masuk dalam daftar prioritas di tingkat musyawarah perencanaan pembangunan desa. Namun, hingga detik ini belum ada tindak lanjut fisik di lapangan.
"Sudah beberapa tahun belakangan selalu kami usulkan, namun belum ada realisasi. Tahun ini pun akan kami usulkan lagi. Kami juga memerlukan arahan bagaimana caranya agar listrik PLN bisa masuk ke Bayur," terang Safii.
Safii menegaskan bahwa masyarakat Dusun Bayur memiliki hak yang sama dengan warga desa lain di Balangan untuk menikmati pemerataan pembangunan infrastruktur dasar.
Editor : Sutrisno