Kemarau Keringkan Sumber Air, Warga Desa Gumbil Andalkan Bantuan Air Tangki

M Padil Ihsan • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 13:14 WIB
BANTUAN AIR BERSIH: Pemerintah Desa Gumbil menyalurkan air bersih untuk warganya menggunakan tangki BPK Al-Ihya. (Foto: M Padil Ihsan/Radar Banjarmasin) 
BANTUAN AIR BERSIH: Pemerintah Desa Gumbil menyalurkan air bersih untuk warganya menggunakan tangki BPK Al-Ihya. (Foto: M Padil Ihsan/Radar Banjarmasin) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kandangan - Musim kemarau mulai berdampak pada ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Salah satunya dirasakan masyarakat Desa Gumbil, Kecamatan Telaga Langsat, yang sudah mengalami kesulitan mendapatkan air bersih selama sekitar satu bulan terakhir.

Sekretaris Desa Gumbil, Budi, mengatakan kondisi tersebut terjadi karena sumber air yang selama ini dimanfaatkan warga mengalami penurunan debit. Sumber air tersebut berasal dari kawasan pegunungan dan dialirkan melalui pipa menuju permukiman warga.

“Kurang lebih sebulan ini sumber air sudah sulit. Debit air dari gunung kecil karena sungainya surut,” ujarnya, Kamis (3/9/2026).

Menurut Budi, kecilnya debit air membuat aliran yang biasanya menjangkau seluruh permukiman kini hanya mampu sampai ke RT 4. Itu pun dengan jumlah air yang sangat terbatas.

“Kalau musim normal, alirannya bisa sampai ke ujung kampung. Sekarang hanya sampai RT 4 dan itu pun air yang keluar sedikit,” jelasnya.

Selain mengandalkan sumber air dari pegunungan, sebagian masyarakat Desa Gumbil menggunakan sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, kemarau juga membuat sejumlah sumur warga ikut mengering.

Kondisi serupa juga terjadi pada aliran PDAM yang digunakan sebagian warga. Salah satu warga Desa Gumbil, Junaidi, mengatakan air PDAM sebenarnya masih mengalir, tetapi tidak selalu sampai ke permukiman yang berada di daerah lebih tinggi ketika penggunaan air di wilayah bawah meningkat.

“Kalau masyarakat yang di daerah bawah banyak menggunakan air, ke daerah yang lebih tinggi seperti di sini airnya tidak sampai. Biasanya baru lancar tengah malam, saat sudah tidak banyak yang menggunakan air,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat warga harus menyesuaikan waktu untuk mendapatkan air dari PDAM. Sementara sumber air dari pegunungan yang selama ini menjadi andalan warga juga tidak mampu memenuhi kebutuhan seperti saat musim normal.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Desa Gumbil telah melakukan gotong royong bersama masyarakat dengan membersihkan kolam penampungan dan saluran air. Upaya memperdalam kolam sempat dilakukan, namun debit air yang terlalu kecil membuat cara tersebut tidak banyak membantu.

“Kami sudah gotong royong membersihkan kolam penampungan supaya alirannya lebih lancar. Awalnya juga ingin memperdalam kolam, tetapi debit airnya memang terlalu kecil. Jadi, kami fokus membersihkan sampah dan memperbaiki pipa yang bocor atau pecah,” kata Budi.

Di tengah kondisi tersebut, bantuan air bersih mulai disalurkan kepada masyarakat. Desa Gumbil telah menerima bantuan dari Pemerintah Kabupaten HSS dan Polres.

Selain bantuan tersebut, pemerintah desa juga mengalokasikan anggaran untuk pengadaan air bersih dengan memanfaatkan tangki BPK Al-Ihya. Tangki berkapasitas 5.000 liter tersebut digunakan untuk mengambil air dari PDAM dan kemudian disalurkan kepada masyarakat.

“Penanganannya ada bantuan dari Pemkab dan Polres. Dari desa juga kami anggarkan untuk pengadaan air bersih melalui tangki BPK Al-Ihya. Satu tangki berkapasitas 5.000 liter,” pungkasnya.

Editor : Arif Subekti
warga desa gumbil debit sumber air pegunungan kemarau kesulitan air bersih