RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Barabai – Persoalan sampah masih menjadi salah satu tantangan pengelolaan lingkungan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).
Setiap hari, sekitar 130 ton sampah di wilayah perkotaan harus ditangani dengan dukungan armada pengangkut yang sebagian di antaranya sudah berusia tua.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup HST, Ahmad Syafa’at mengatakan, persoalan persampahan menjadi salah satu layanan yang cukup banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Menurutnya, DLH menangani sekitar 130 ton sampah setiap hari di kawasan perkotaan dengan dukungan sekitar 20 armada. Namun, kondisi sebagian armada yang sudah berusia tua menjadi salah satu kendala dalam pelayanan pengangkutan sampah.
Selain persoalan sampah, masyarakat juga masih menyampaikan pengaduan terkait gangguan lingkungan. Beberapa di antaranya menyangkut bau dari peternakan ayam hingga dugaan pembuangan limbah oleh perusahaan.
DLH HST juga melakukan pengawasan terhadap pelaku usaha yang telah memiliki persetujuan atau izin lingkungan. Saat ini, terdapat sekitar 30 pelaku usaha yang dipantau terkait kepatuhan terhadap pengelolaan lingkungan dan diwajibkan menyampaikan laporan setiap semester.
“Pengawasan ini untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, khususnya untuk pelaku usaha yang sudah berizin lingkungan,” ujarnya, Rabu (2/9/2026).
Persoalan lain yang turut menjadi perhatian yakni munculnya titik-titik pembuangan sampah liar, terutama di sejumlah kawasan yang menjadi akses menuju tempat wisata.
DLH meminta masyarakat maupun pihak kecamatan melaporkan apabila menemukan lokasi pembuangan sampah liar. Informasi tersebut diperlukan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
“Mohon diinformasikan kalau-kalau ada titik pembuangan liar, supaya bisa kita edukasi dan kita tangani secepatnya,” katanya.
Di sisi lain, DLH secara berkala melakukan pemantauan terhadap kondisi lingkungan melalui pengujian kualitas air sungai, udara dan tanah, khususnya di kawasan yang dinilai berpotensi terdampak.
Syafa'at menilai keterlibatan masyarakat penting dalam menjaga kualitas lingkungan. Sebab, luasnya wilayah HST membuat pengawasan tidak dapat dilakukan secara bersamaan di seluruh lokasi.
"Kami akan terus melakukan evaluasi untuk memperbaiki pelayanan lingkungan, terutama dalam menghadapi persoalan persampahan dan berbagai keluhan lingkungan yang muncul di tengah masyarakat," pungkasnya.
Editor : Sutrisno