BMKG Prediksi Curah Hujan Balangan Tetap Minim di Awal September

M Dirga • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:27 WIB
KEKERINGAN: Hamparan lahan yang mengering di wilayah Kabupaten Balangan. Prediksi curah hujan yang sangat rendah pada awal September menuntut kewaspadaan ekstra terhadap ancaman meluasnya kebakaran lahan. (M Dirga/ Radar Banjarmasin)
KEKERINGAN: Hamparan lahan yang mengering di wilayah Kabupaten Balangan. Prediksi curah hujan yang sangat rendah pada awal September menuntut kewaspadaan ekstra terhadap ancaman meluasnya kebakaran lahan. (M Dirga/ Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Paringin - Ancaman krisis air dan meluasnya kebakaran lahan di Kabupaten Balangan sepertinya belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Merujuk pada hasil analisis terbaru dari Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan, curah hujan pada awal September ini diprediksi sangat rendah, sehingga potensi munculnya titik api baru di lahan gambut masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan, H Rahmi membeberkan bahwa cuaca terik yang terjadi belakangan ini sejalan dengan rilis resmi BMKG.

Sepanjang sepuluh hari terakhir di bulan Agustus, sejumlah wilayah Kalimantan Selatan mengalami curah hujan dengan kategori rendah dan berada di bawah normal.

Meski data mencatat ada sebagian kecil wilayah di timur Balangan yang sempat menerima hujan dengan kategori normal hingga atas normal, secara keseluruhan kondisi tersebut belum mampu membasahi kawasan rawan secara merata. Kekeringan ekstrem tetap mendominasi dan mempercepat proses pengeringan vegetasi di lapangan.

"Berdasarkan analisis klimatologi, wilayah kita mayoritas berada pada kondisi bawah normal. Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap tingkat kekeringan lahan di lapangan," ungkap Rahmi, Selasa (1/9).

Memasuki periode awal September, situasi cuaca diproyeksikan tidak akan mendingin. Prediksi curah hujan hingga sepuluh hari ke depan hanya berkisar antara nol hingga sepuluh milimeter, dengan peluang terjadinya kondisi kering mencapai lebih dari lima puluh persen. Angka ini menjelaskan bahwa pasokan hujan masih minim untuk membantu mendinginkan area semak belukar.

Prediksi minimnya curah hujan ini jelas menjadi alarm bahaya bagi tim gabungan penanggulangan bencana di Balangan. Mengingat ketersediaan air permukaan yang mengering, saat ini tim gabungan baru mampu memadamkan 194 hektare dari total 680 hektare lahan yang telah luluh lantak dilahap api.

Kondisi alam yang tidak menguntungkan ini memaksa pihak berwenang untuk segera mengeksekusi wacana pembuatan sumur bor dangkal secepatnya. Jika krisis pasokan air terus dibiarkan di tengah cuaca yang kian terik, masyarakat harus kembali bersiap menghadapi kepulan kabut asap pekat yang sebelumnya sempat membuat kualitas udara sempat anjlok ke level berbahaya pada akhir pekan tadi.

 

Editor : Sutrisno
karhutla kemarau