RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru - Tanah kuning kecokelatan terasa panas di bawah terik matahari. Pepohonan di kawasan Wisata Danau Seran memberi sedikit keteduhan, tetapi tak cukup untuk mengusir panas siang itu.
Di sebuah tanah lapang, kursi-kursi plastik berjajar. Para orang tua duduk menunggu. Sebagian terdiam. Beberapa lainnya memandang anak-anak mereka yang berdiri di hadapan.
Anak-anak itu kemudian berlutut. Mengenakan kaus oranye bertuliskan HONESTY, mereka perlahan menyentuh kaki orang tua. Mencucinya. Membersihkannya. Kemudian menciumnya.
Tak ada panggung. Apalagi seremoni besar. Hanya baskom berisi air, kursi plastik, dan sejumlah anak yang menundukkan kepala di hadapan orang tua.
Namun, bagi mereka, momen itu bukan sekadar ritual. Ada rasa hormat yang hendak dikembalikan. Ada kesadaran yang sedang dibangun. Dan ada kepercayaan yang perlahan ingin dirajut kembali.
Adegan itu menjadi bagian dari Family Support Group yang digelar IPWL YPR Kobra Nusantara Kalimantan Selatan di kawasan Wisata Danau Seran, Banjarbaru, Sabtu (29/8).
Sebanyak 78 residen dari berbagai fase rehabilitasi mengikuti kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Jumat-Sabtu (28-29/8). Mereka berasal dari fase Younger, Older, hingga Re-Entry.
Keluarga turut dilibatkan. Sebab proses pemulihan tidak selalu berakhir ketika seseorang keluar dari tempat rehabilitasi.
Justru setelah kembali ke rumah dan lingkungan masyarakat, perjalanan yang sebenarnya kembali dimulai.
Di antara puluhan residen itu, ada Muluk, 35 tahun. Ia menjalani rehabilitasi setelah keluarganya mengetahui penggunaan sabu dan obat-obatan.
Hari-harinya kini diisi dengan kegiatan yang terstruktur. Mulai morning meeting, share feeling, seminar, corvee atau membersihkan lingkungan, menjaga kebersihan diri, pemeriksaan kesehatan, olahraga, salat berjamaah, belajar membaca Al-Qur'an, hingga pendidikan kesetaraan melalui Paket A, B, dan C.
Rutinitas itu perlahan menjadi bagian dari kesehariannya. "Banyak pengalaman yang bisa saya ambil selama mengikuti kegiatan di sini," ujar Muluk.
Pengalaman tersebut membuatnya mulai memikirkan kehidupan setelah rehabilitasi. Ia tidak sekadar ingin pulang dan kembali menjalani hidup seperti sebelumnya.
Muluk justru ingin tetap berada di lingkungan yang membantunya menjalani proses pemulihan. Ia ingin menjadi staf di YPR Kobra. "Saya ingin jadi staf di sini, menjaga pemulihan dan mengabdi di yayasan untuk membantu orang lain," katanya.