Karhutla Ancam Habitat Bekantan di Sungai Rutas Tapin, Jangan Sampai Kejadian 2015 Terulang

Rasidi Fadli • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:51 WIB
JANGAN TERULANG: Kader Konservasi Rindang Lestari, Syahrani, mengingatkan agar kejadian Karhutla 2015 yang mengakibatkan banyaknya bekantan mati, tidak terulang. 
JANGAN TERULANG: Kader Konservasi Rindang Lestari, Syahrani, mengingatkan agar kejadian Karhutla 2015 yang mengakibatkan banyaknya bekantan mati, tidak terulang. 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Rantau – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Tapin belum berdampak langsung terhadap habitat bekantan di pesisir Sungai Rutas.

Namun, kondisi tersebut bisa berubah apabila kobaran api mulai merambat ke kawasan tepian sungai yang menjadi habitat satwa endemik Kalimantan tersebut.

Ketua Kader Konservasi Rindang Lestari, Syahrani mengatakan, berdasarkan pemantauan sejauh ini habitat bekantan di sepanjang Sungai Rutas masih relatif aman.

Sebab, titik kebakaran yang terjadi belum mencapai kawasan pesisir sungai. Sementara bekantan banyak beraktivitas dan mencari makan di pepohonan yang tumbuh di sekitar aliran sungai.

"Untuk saat ini masih aman karena kebakaran lahan belum sampai ke pesisir Sungai Rutas. Bekantan memang pola hidupnya berada di pepohonan sekitar sungai," ujarnya, Jumat (28/8/2026).

Meski masih aman, Syahrani mengingatkan ancaman karhutla terhadap populasi bekantan bukan persoalan baru.

Ia berkaca pada kejadian 2015. Saat itu, kebakaran besar menjalar hingga kawasan pesisir Sungai Rutas. Dampaknya cukup serius. Puluhan bekantan ditemukan mati.

Kematian satwa tersebut diduga bukan karena terbakar langsung. Melainkan akibat gangguan pernapasan setelah terpapar asap karhutla yang pekat.

"Jangan sampai kejadian seperti 2015 kembali terulang," katanya.

Dari hasil pemantauan, sedikitnya terdapat sembilan koloni bekantan yang mendiami kawasan sepanjang pesisir Sungai Rutas.

Setiap koloni diperkirakan beranggotakan sekitar 25 hingga 30 ekor. Dengan jumlah tersebut, kawasan Sungai Rutas menjadi salah satu habitat penting bagi populasi bekantan di Kabupaten Tapin.

Menurut Syahrani, ancaman akan semakin besar jika karhutla yang saat ini terjadi terus meluas dan mulai menyasar kawasan pesisir sungai.

Terlebih, periode hingga pertengahan Oktober 2026 dinilai menjadi waktu yang perlu diwaspadai. Sebab, Kalimantan Selatan diperkirakan mulai memasuki masa transisi menuju musim hujan.

"Kalau sampai pertengahan Oktober kebakaran justru menyasar lahan di pesisir sungai, maka populasi bekantan bisa terancam," ujarnya.

Karena itu, pengendalian karhutla dinilai tidak cukup hanya berorientasi pada perlindungan permukiman dan aktivitas masyarakat.

Kawasan habitat satwa liar juga perlu mendapat perhatian. Terutama tepian Sungai Rutas yang menjadi ruang hidup bekantan.

Syahrani berharap pencegahan dan penanganan karhutla di sekitar kawasan tersebut diperkuat. Langkah ini penting untuk menjaga populasi bekantan sekaligus mencegah terulangnya kerusakan ekologis seperti pada 2015.

"Pencegahan kebakaran di sekitar pesisir Sungai Rutas penting dilakukan untuk menghindari terulangnya dampak ekologis seperti yang terjadi pada kebakaran besar 2015," pungkasnya.

Editor : Sutrisno
karhutla Tapin bekantan