RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Binuang – Penggunaan pupuk organik untuk mendukung produktivitas perkebunan kelapa sawit terus didorong. Salah satunya melalui pelatihan yang digelar Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik bagi Pekebun Sawit tersebut berlangsung di BBPP Binuang selama lima hari, 23 hingga 27 Agustus 2026.
Kegiatan kali ini menyasar 30 pekebun dari Kabupaten Barito Kuala. Pelatihan tersebut menjadi bagian dari sinergi berkelanjutan antara BPDP, Kementerian Pertanian melalui BBPP Binuang dan pemerintah daerah.
Kepala BBPP Binuang, Andi Amal Hayat Makmur, melalui Ketua Kelompok Substansi Penyelenggara Pelatihan, Susmawati mengatakan, pelatihan serupa sebelumnya juga telah dilaksanakan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dengan peserta dari Kabupaten Barito Utara.
"Pelatihan yang diselenggarakan saat ini dikhususkan bagi peserta dari Kabupaten Barito Kuala dengan jumlah sebanyak 30 orang," ujarnya.
Menurut Susmawati, evaluasi dan pemantauan dilakukan selama kegiatan berlangsung. Hal itu untuk memastikan kualitas pelatihan sekaligus meningkatkan layanan BBPP Binuang sebagai lembaga pelatihan pertanian.
"Kami juga ingin menjaga kualitas alumni atau purnawidya BBPP Binuang. Selama pelaksanaan pelatihan ini akan terus dipantau dengan berbagai instrumen evaluasi dan pemantauan," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Barito Kuala, Lasiman, turut hadir memberikan arahan sekaligus membuka kegiatan secara resmi.
Ia mengapresiasi kolaborasi antara BPDP, Kementerian Pertanian melalui BBPP Binuang dan Pemkab Barito Kuala tersebut.
"Ini merupakan kolaborasi yang luar biasa antara BPDP, Kementerian Pertanian melalui BBPP Binuang, dan pemerintah daerah," ucapnya.
Lasiman meminta para peserta tidak menyia-nyiakan kesempatan mengikuti pelatihan. Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh harus benar-benar dipahami dan diterapkan di lapangan.
"Ikuti seluruh rangkaian kegiatan dari awal sampai akhir dengan serius, serta manfaatkan sesi praktik untuk bertanya langsung kepada para ahli atau narasumber," pesannya.
Tak hanya untuk diri sendiri, peserta juga diminta menularkan ilmu yang diperoleh kepada pekebun sawit maupun kelompok tani lainnya.
"Tularkan ilmu yang didapat kepada pekebun sawit atau kelompok tani lainnya di daerah masing-masing. Jadilah motor penggerak pengembangan kelapa sawit di daerah," tambahnya.
Melalui pelatihan ini, pekebun diharapkan mampu memanfaatkan bahan hayati yang tersedia di sekitar untuk membuat dan mengaplikasikan pupuk organik.
Selain menekan biaya pemupukan, pemanfaatan pupuk organik diharapkan membantu memperbaiki kesuburan tanah dan mendukung pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang lebih berkelanjutan.
Pengetahuan tersebut dinilai penting agar pekebun memiliki pilihan teknologi pemupukan yang dapat diterapkan sesuai kondisi di lapangan, sekaligus menghadapi berbagai tantangan pengembangan komoditas kelapa sawit ke depan.
Editor : Nurhidayat