Cegah Karhutla, PUPR Kalsel Kerahkan Puluhan Personel

Sutrisno • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 11:54 WIB
DIKERAHKAN: Personel dari Dinas PUPR Kalsel dikerahkan menjaga kawasan hutan lindung. 
(MC Kalsel) 
DIKERAHKAN: Personel dari Dinas PUPR Kalsel dikerahkan menjaga kawasan hutan lindung.  (MC Kalsel) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Puluhan personel dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalsel dikerahkan guna menjaga kawasan Hutan Lindung Liang Anggang tetap basah selama kemarau ini.

Personel yang totalnya 53 orang itu sekaligus mengoperasikan sejumlah pompa untuk menjaga kawasan hutan lindung tetap basah selama musim kemarau sejak 10 Agustus 2026.

Ini merupakan upaya pencegahan dan penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalsel. Personel ditempatkan di Posko Karhutla di kawasan Hutan Lindung Liang Anggang, Jalan Makmur, berkolaborasi dengan Dinas Kehutanan Kalsel.

Kepala Dinas PUPR Kalsel M Yasin Toyib melalui Kepala Seksi Irigasi dan Air Baku, Herry Ade Permana, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya antisipasi menghadapi potensi peningkatan Karhutla yang diperkirakan mencapai puncaknya pada September mendatang.

“Sebetulnya sebelum Karhutla terjadi dan sebelum kemarau, sejak Mei kami sudah melakukan pembasahan dengan membuka pintu Karhutla di BRK 9 Cindai Alus,” ujar Herry. 

Menurut dia, pintu tersebut terus dibuka dengan debit air sekitar 0,47 meter kubik per detik. Pembasahan dilakukan untuk menjaga kawasan Guntung Damar dan area sekitar Bandara International Syamsudin Noor tetap memiliki suplai air yang cukup.

Hasil pemantauan terbaru, ungkap Herry, kawasan hingga ujung Guntung Damar masih dalam kondisi basah. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa upaya pembasahan yang dilakukan secara berkelanjutan cukup efektif menjaga kelembapan kawasan rawan karhutla. 

Dalam mendukung pembasahan hutan lindung di kawasan Jalan Makmur, PUPR Kalsel mengoperasikan sejumlah peralatan, diantaranya satu unit pompa berukuran 8 inci, dua unit pompa 4 inci, serta pompa apung.

Peralatan tersebut dioperasikan secara maksimal, bahkan selama 24 jam, untuk menyuplai air dari jaringan irigasi maupun saluran pembuang menuju kawasan hutan lindung. 

Air yang dialirkan selanjutnya diteruskan secara estafet oleh petugas Dinas Kehutanan untuk membasahi area hutan lindung. Dengan demikian, kawasan tersebut diharapkan tidak mengalami kekeringan yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran. (al/ris) 

Editor : Arief
karhutla kalimantan selatan PUPR Kalsel