Hujan Buatan Terkendala Awan, OMC di Kalsel Belum bisa Dilakukan

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 11:43 WIB
SUDAH SIAP: Pesawat dan bahan penyemaian disiagakan di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru. (Foto: MC Kalsel)
SUDAH SIAP: Pesawat dan bahan penyemaian disiagakan di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru. (Foto: MC Kalsel)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) masih belum bisa dilakukan. Pasalnya, kondisi awan potensial yang memenuhi syarat untuk penyemaian garam belum tersedia di langit Banua.

Meski operasi udara terhenti, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalsel memastikan seluruh kebutuhan operasional tetap dalam posisi siaga penuh (standby).

Kesiapan ini disiagakan untuk mengantisipasi lonjakan potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) akibat cuaca panas.

Seperti diketahui, OMC sebelumnya sempat berlangsung selama tujuh hari. Yakni pada 15 hingga 21 Juli 2026 lalu. Namun, tim menghentikan penerbangan secara sementara karena kondisi awan hujan yang berpotensi disemai kian menipis.

Walau armada penerbangan belum kembali di udara. Seluruh peralatan, bahan penyemaian yang didatangkan secara bertahap dari Jakarta sejak 13 Juli 2026, hingga pesawat penyemai tetap disiagakan penuh di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru.

"Pesawat serta bahan-bahan OMC sudah standby di Bandara Syamsudin Noor. Kebutuhan operasional disiapkan untuk memastikan operasi dapat segera dilaksanakan begitu ada rekomendasi teknis," terang Kepala BPBD Provinsi Kalsel, Ronny Eka Saputra.

Ia menegaskan, pelaksanaan OMC sepenuhnya mengacu pada pemantauan dan rekomendasi teknis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Awan sasaran harus memiliki karakteristik serta kandungan air yang cukup agar proses modifikasi cuaca berjalan efektif memicu hujan.

Pantauan radar BMKG terus bergerak menyisir perkembangan potensi awan di berbagai wilayah Kalsel. Koordinasi lintas instansi terus diperketat agar penerbangan bisa mendadak diaktifkan sewaktu-waktu.

"Begitu kawan-kawan BMKG menemukan sebaran awan yang bisa disemai, pesawat langsung bergerak beserta bahan-bahannya. Kami hanya bergerak berdasarkan rekomendasi BMKG," tandasnya. (she/gr/mof)

Editor : Arief M
karhutla Modifikasi Cuaca kemarau bpbd kalsel