RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, AMUNTAI – Kematian ikan secara massal menghantam pembudi daya keramba di Desa Tahuran, Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Sekitar 300 keramba milik warga terdampak, dengan perkiraan kerugian mencapai Rp2 miliar.
Kepala Desa Tahuran Hambali mengatakan angka tersebut masih merupakan perkiraan awal. Pendataan masih dilakukan untuk memastikan jumlah keramba, ikan yang mati, serta total kerugian warga.
"Kurang lebih ada 300 keramba yang terdampak. Kalau ditaksir, kerugian warga bisa mencapai sekitar Rp2 miliar," kata Hambali, Senin (24/8/2026).
Mayoritas ikan yang mati merupakan bawal air tawar. Sebelum mati, ikan ditemukan dalam kondisi lemas dan berenang tidak normal.
Kejadian tersebut berlangsung saat debit Sungai Haur Gading menurun akibat musim kemarau. Kondisi sungai yang dangkal dan aliran air yang tidak optimal diduga membuat sirkulasi air terganggu hingga kadar oksigen berkurang.
Namun, Hambali belum memastikan penyebab kematian ikan hanya akibat kekurangan oksigen. Dugaan pencemaran dari bagian hulu sungai juga mencuat dan masih membutuhkan pemeriksaan.
"Kami masih menduga penyebabnya karena kondisi air yang tidak mengalir dan kekurangan oksigen. Kalau ada penyebab lain, seperti limbah atau bahan beracun dari hulu, itu masih perlu dibuktikan," ujarnya.
Pemerintah desa berharap kualitas air Sungai Haur Gading segera diperiksa. Hasil pemeriksaan dinilai penting untuk memastikan penyebab kematian ikan sekaligus mencegah kejadian serupa terulang.
Di tengah kerugian yang membayangi, warga berupaya menyelamatkan ikan yang masih layak. Sebagian ikan yang masih segar diolah menjadi ikan kering. Sementara ikan yang telah membusuk dipisahkan dan dibuang agar tidak mencemari sungai.
Bagi pembudi daya keramba, kejadian ini menjadi pukulan berat. Mereka berharap kondisi sungai segera pulih sehingga ikan yang masih hidup dapat diselamatkan dan usaha budi daya kembali berjalan normal.