RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin - Poltekkes Kemenkes Banjarmasin mengembangkan teknologi pengolahan air berbasis Gravel Bed Synthetic (GBS), Ultrafiltration Modify (UFM), dan kombinasi keduanya dalam sistem Hybrid GBS+UFM.
Hasil pengujian awal menunjukkan sistem hybrid mampu menyisihkan kekeruhan air hingga 99,2 persen. Temuan tersebut menjadi bagian dari penelitian PDUPT Tahun II 2026 dalam roadmap penelitian periode 2025–2027.
Pengujian dilaksanakan April hingga Juli 2026 menggunakan tiga sumber air dengan karakteristik berbeda, yakni air Sungai Martapura di Desa Melayu Tengah, Kabupaten Banjar; air gambut Handil Bawang di Desa Baringin, Kabupaten Barito Kuala; serta air kolam di Desa Baringin, Kabupaten Barito Kuala.
Penelitian dipimpin Sulaiman Hamzani, ST., MT., bersama anggota Syarifudin A., S.KM., MS. dan Fatmi Indah Hati, S.Si., M.Si. Kegiatan juga melibatkan tujuh mahasiswa Program Sarjana Terapan Sanitasi Lingkungan.
Tim melakukan berbagai tahapan penelitian, mulai dari desain reaktor, pengambilan sampel, pemeriksaan laboratorium, analisis data, hingga penyusunan luaran penelitian.
Sulaiman Hamzani menjelaskan, penelitian dilakukan untuk mengetahui kemampuan masing-masing teknologi dalam mengolah air baku dengan karakteristik berbeda.
“Penelitian ini kami lakukan untuk melihat sejauh mana rancangan teknologi GBS, UFM, dan kombinasi Hybrid GBS+UFM mampu meningkatkan kualitas air baku,” ujarnya.
Pengujian dilakukan secara eksperimental dengan 27 unit eksperimen yang merupakan kombinasi tiga jenis air, tiga metode pengolahan, dan tiga kali replikasi. Pengamatan dilakukan pada waktu operasi 0, 30, dan 60 menit. Sejumlah parameter turut dievaluasi, meliputi kekeruhan, pH, TDS, TSS, COD, Total Coliform, debit atau flux, serta Transmembrane Pressure (TMP).
Hasil pengujian menunjukkan teknologi GBS mulai mampu menurunkan kekeruhan seiring bertambahnya waktu operasi. Sementara UFM menunjukkan kemampuan penyisihan kekeruhan lebih tinggi, meski selama operasi terjadi penurunan flux dan peningkatan TMP.
Kondisi tersebut menjadi dasar tim untuk mengevaluasi sistem Hybrid GBS+UFM. Hasilnya, sistem hybrid menunjukkan kinerja penyisihan kekeruhan yang konsisten pada tiga jenis air yang diuji.
Pada air Sungai Martapura, sistem hybrid mencatat removal kekeruhan sebesar 99,2 persen pada menit ke-0, 98,9 persen pada menit ke-30, dan 98,9 persen pada menit ke-60. Pada air gambut, removal kekeruhan mencapai 94,6 persen pada menit ke-0, 94,1 persen pada menit ke-30, dan 94,3 persen pada menit ke-60. Sedangkan pada air kolam, sistem hybrid menghasilkan removal kekeruhan sebesar 98,7 persen pada menit ke-0, 98,2 persen pada menit ke-30, dan 96,5 persen pada menit ke-60.
Menurut Sulaiman, hasil tersebut menjadi temuan penting dalam tahapan pengembangan teknologi pengolahan air yang dilakukan tim.
“Hasil awal ini cukup menjanjikan. Pada air sungai dan air kolam, sistem hybrid mampu menghasilkan penyisihan kekeruhan hingga lebih dari 98 persen,” jelasnya.
Temuan tersebut selanjutnya menjadi dasar untuk melakukan evaluasi dan penyempurnaan desain agar teknologi yang dikembangkan semakin efektif dan dapat diaplikasikan sesuai kebutuhan masyarakat.
Sulaiman menambahkan, penelitian tahun kedua tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan data dan luaran akademik, tetapi juga menjadi dasar pengembangan teknologi pada tahapan berikutnya dalam roadmap PDUPT 2025–2027.
Pengembangan teknologi ini diharapkan menjadi salah satu alternatif pengolahan air baku, terutama di wilayah dengan karakteristik air yang membutuhkan proses pengolahan lebih lanjut.
Melalui penelitian tersebut, Poltekkes Kemenkes Banjarmasin terus mendorong pengembangan teknologi sanitasi berbasis penelitian dan inovasi untuk mendukung peningkatan kualitas lingkungan serta kesehatan masyarakat.