Kebakaran Gambut 36 Hektare di Banjar Masih Berasap, Menhut Pinta Pemadaman Sampai Tuntas

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:49 WIB
MASIH BERASAP: Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Antoni meninjau langsung penanganan karhutla di Desa Penggalaman, Kabupaten Banjar.
MASIH BERASAP: Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Antoni meninjau langsung penanganan karhutla di Desa Penggalaman, Kabupaten Banjar.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, MARTAPURA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Penggalaman, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, belum sepenuhnya aman.

Meski kobaran api di permukaan sudah tak terlihat, lahan gambut seluas 36 hektare yang terbakar masih mengeluarkan asap. Bara yang tertinggal di bawah permukaan menjadi ancaman munculnya api baru.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Antoni yang turun langsung meninjau penanganan karhutla di lokasi, Minggu (23/8).

Peninjauan dilakukan untuk memastikan proses pemadaman di lahan gambut yang berada di kawasan non-kawasan dan berbatasan dengan hutan lindung tersebut benar-benar tuntas.

"Karena ini daerah gambut, memang tidak ada api di atas tapi dari bawah masih ada asap. Oleh karena itu pekerjaan ini harus dilakukan secara detail agar tidak ada muncul api lagi," tegas Raja Antoni di lokasi peninjauan.

Api Hilang, Asap Masih Mengepul dari Dalam Gambut

Karakteristik lahan gambut membuat penanganan karhutla jauh lebih sulit. Api dapat menjalar dan bertahan di bawah permukaan tanah sehingga tidak selalu terlihat secara kasatmata.

Kondisi inilah yang membuat petugas tidak cukup hanya memastikan kobaran api di permukaan padam. Lapisan gambut di bawahnya juga harus dibasahi dan didinginkan secara menyeluruh untuk mencegah bara kembali menyala.

Ancaman tersebut semakin serius karena lokasi kebakaran berada di area yang berbatasan dengan hutan lindung.

Hotspot Kalsel Kembali Naik

Di tengah upaya pemadaman, jumlah titik panas di Kalimantan Selatan masih bergerak fluktuatif.

Berdasarkan data Sipongi, pada 21 Agustus tercatat 157 hotspot. Angka tersebut kemudian turun drastis menjadi 11 titik pada malam 22 Agustus.

Namun, pemantauan pada Minggu (23/8) pagi kembali menunjukkan peningkatan. Sebanyak 44 hotspot terdeteksi di sejumlah wilayah, yakni Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, Hulu Sungai Selatan, dan Tapin.

Fluktuasi tersebut menunjukkan ancaman karhutla masih belum sepenuhnya terkendali.

176 Kali Water Bombing dalam Sehari

Penurunan hotspot sebelumnya tidak terlepas dari operasi gabungan yang dilakukan secara masif.

Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, dan BNPB dikerahkan melalui operasi darat dan udara untuk memutus penyebaran api.

Dari udara, helikopter water bombing bahkan melakukan 176 kali bom air dalam sehari untuk membasahi dan memadamkan titik-titik kebakaran.

Namun, karakteristik gambut membuat penanganan tidak bisa berhenti hanya ketika api terlihat padam. Pemeriksaan dan pendinginan harus dilakukan hingga ke lapisan bawah.

El Nino Mencapai Puncak, Kewaspadaan Diminta Tak Kendur

Raja Antoni meminta seluruh pihak mempertahankan kewaspadaan tinggi. Ancaman karhutla dinilai masih berpotensi meningkat karena fenomena El Nino diprediksi mencapai puncaknya pada September mendatang.

Pemerintah juga mengingatkan masyarakat dan korporasi agar tidak membuka lahan dengan metode pembakaran.

"Jangan ada lagi petani atau perusahaan yang melakukan land clearing dengan cara membakar," pungkasnya.

Peringatan tersebut menjadi penting karena ketika lahan mengering, api dapat lebih cepat menyebar dan penanganannya menjadi jauh lebih sulit, terutama pada kawasan gambut.

Dengan hotspot yang kembali meningkat dan gambut yang masih mengeluarkan asap, penanganan karhutla di Kalimantan Selatan kini tidak hanya berpacu dengan api di permukaan, tetapi juga bara yang tersembunyi di bawah tanah.

Editor : Eddy Hardiyanto
Banjar Menhut kebakaran gambut