Warga Kompleks Aeropolis 1 Banjarbaru Mulai Mengungsi, ‎Kabut Asap Karhutla Makin Pekat

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 10:14 WIB
KARHUTLA: Petugas gabungan dan relawan berada di Kompleks Aeropolis Saleh Banjarbaru yang dikepung asap.
KARHUTLA: Petugas gabungan dan relawan berada di Kompleks Aeropolis Saleh Banjarbaru yang dikepung asap.

‎RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Kobaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, semakin mendekati permukiman warga.

Kabut asap pekat menyelimuti kawasan tersebut. Ancaman api yang terus bergerak membuat sejumlah warga Kompleks Aeropolis 1 memilih mengungsi secara mandiri pada Sabtu (22/8) sore.

Paparan asap pada Sabtu menjadi yang terparah setelah api membakar lahan gambut di sekitar permukiman selama dua hari terakhir.

"Lebih parah daripada kemarin. Keluarga sudah saya minta mengungsi ke kampung halaman untuk menghindari asap dan ancaman kebakaran. Saya memilih bertahan untuk menjaga rumah," ujar Saleh, warga Kompleks Aeropolis 1.

Kelompok Rentan Lebih Dulu Dievakuasi

Saleh menuturkan, warga yang lebih dulu meninggalkan kompleks umumnya berasal dari kelompok rentan.

Bayi, ibu hamil, dan lansia menjadi prioritas untuk menjauh dari kepungan asap dan potensi bahaya api.

Sementara itu, sebagian pria dewasa memilih tetap berada di kompleks untuk memantau pergerakan api dan kondisi rumah masing-masing.

Situasi tersebut menggambarkan kekhawatiran warga ketika kobaran api semakin dekat dengan tempat tinggal mereka.

Api Sempat Menyentuh Batas Rumah

Bhabinkamtibmas Kelurahan Syamsudin Noor, Aiptu Helmi Apriana, mengatakan titik api sebenarnya sudah muncul sejak beberapa hari sebelumnya.

Namun, kondisi cuaca panas dan tiupan angin kencang membuat api lebih cepat menjalar.

"Api sudah sampai di dinding bagian luar rumah warga pada blok belakang. Namun, tim gabungan di lapangan bergerak cepat dan berhasil mengendalikan titik kritis tersebut," kata Helmi.

Kondisi ini membuat petugas harus bekerja cepat. Sebab, ketika angin kembali bertiup kencang, api berpotensi bergerak menuju area lain yang belum terbakar.

Bara di Bawah Gambut Jadi Ancaman

Pemadaman karhutla di kawasan Landasan Ulin juga tidak mudah. Karakteristik lahan gambut membuat api dapat bertahan di bawah permukaan tanah.

Bara yang tidak sepenuhnya padam bisa kembali memunculkan api ke permukaan ketika mendapat suplai oksigen dan tertiup angin.

Karena itu, pemadaman tidak hanya dilakukan dengan mengatasi kobaran yang terlihat. Petugas juga harus memastikan bara di dalam lapisan gambut benar-benar padam agar api tidak kembali muncul.

Tim Gabungan Dikerahkan

Upaya pemadaman darat terus dilakukan secara intensif. Sejumlah unsur diterjunkan untuk mengendalikan titik api di sekitar permukiman.

Tim gabungan melibatkan BPBD Provinsi Kalsel, Barisan Pemadam Kebakaran (BPK), relawan Masyarakat Peduli Api (MPA), Masyarakat Peduli Bencana (MPB), serta tim tanggap darurat dari PT Adaro, PT Arutmin, dan PT Hutan Rindang Banua.

Petugas juga terus memantau perkembangan api, terutama titik-titik yang berpotensi kembali terbakar.

Belum Ada Evakuasi Massal

Hingga Sabtu malam, belum ada permintaan evakuasi massal secara resmi dari otoritas setempat.

Meski demikian, warga diminta tidak lengah. Ancaman api dan kabut asap masih perlu diwaspadai, terutama jika cuaca kembali panas dan angin bertiup kencang.

Tim pemadam bersama aparat juga membagikan masker medis secara gratis kepada warga untuk membantu mengurangi paparan asap.

Di tengah kepungan api dan asap, warga Aeropolis 1 kini menghadapi situasi yang tidak mudah: sebagian memilih menyelamatkan keluarga, sementara yang lain tetap bertahan untuk menjaga rumah dan memantau ancaman karhutla yang belum sepenuhnya berakhir.

Editor : Eddy Hardiyanto
karhutla asap banjarbaru mengungsi