RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Martapura — Sebanyak 30 pasien Diabetes Melitus (DM) di wilayah kerja Puskesmas Martapura Barat, Kabupaten Banjar, dibekali pengetahuan untuk mengenali dan merespons tanda-tanda kegawatdaruratan stroke melalui edukasi metode SEGERA.
Kegiatan yang digelar pada April–Mei 2026 ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilaksanakan tim dosen dan mahasiswa dari Jurusan Kesehatan Gigi dan Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin.
Tim pelaksana kegiatan terdiri dari Meggy Wulandari Kai, S.Tr.Kep., M.Tr.Kep., Emilda Sari, S.Si.T., M.Kes., dan Ferry Fadli Fratama, S.ST., M.Tr.Kep.
Edukasi dilakukan melalui penyuluhan dengan pedoman SEGERA dari Kementerian Kesehatan, serta didukung poster dan banner sebagai media visual untuk memudahkan peserta memahami materi.
Program ini dilatarbelakangi tingginya risiko stroke pada penderita diabetes. Pasien DM diketahui memiliki risiko stroke lebih tinggi dibandingkan masyarakat tanpa diabetes. Di Kabupaten Banjar, prevalensi DM tercatat 3,2 persen, sedangkan angka kejadian stroke pada penderita DM mencapai 2,8 persen.
Kondisi tersebut diperparah masih rendahnya pengetahuan masyarakat, terutama pasien lanjut usia, dalam mengenali tanda-tanda stroke dan menentukan langkah penanganan awal yang tepat.
Dalam edukasi tersebut, peserta diperkenalkan dengan metode SEGERA, yakni Senyum tidak simetris, Gerak separuh tubuh melemah, bicara tidak jelas, Rasa kebas atau baal, serta Amat dan segera bawa ke fasilitas kesehatan.
Metode tersebut dipilih karena sederhana dan mudah diingat. Dengan demikian, masyarakat diharapkan mampu mengenali gejala stroke sedini mungkin dan segera mencari pertolongan medis.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta yang cukup signifikan. Rata-rata skor pretest yang sebelumnya 58,4 meningkat menjadi 85,6 pada posttest atau naik 46,6 persen.
Persentase peserta yang dinyatakan kompeten dengan skor di atas 70 juga meningkat dari 43,3 persen menjadi 86,7 persen. Bahkan, seluruh peserta mampu melakukan simulasi deteksi dini stroke menggunakan metode SEGERA.
Keberhasilan edukasi turut didukung penggunaan media yang disesuaikan dengan karakteristik peserta yang sebagian besar merupakan lansia dengan tingkat pendidikan rendah. Poster dan banner dibuat menggunakan ilustrasi sederhana serta huruf berukuran besar agar mudah dibaca.
Sebanyak 97 persen peserta menyatakan media tersebut membantu mereka mengingat materi karena menggunakan bahasa sederhana dan mudah dipahami. Poster kemudian dipasang di papan informasi Puskesmas Martapura Barat dan balai desa sebagai media pengingat berkelanjutan bagi masyarakat.
Ketua tim, Meggy Wulandari Kai, S.Tr.Kep., M.Tr.Kep., mengatakan edukasi mengenai tanda-tanda stroke penting dilakukan karena keterlambatan penanganan dapat memperburuk kondisi pasien.
“Dengan adanya peningkatan pengetahuan ini, kami berharap pasien dan keluarganya dapat lebih siap dan tanggap dalam menghadapi kegawatdaruratan stroke, sehingga angka kecacatan dan kematian dapat ditekan,” ujarnya.
Melalui program tersebut, peserta diharapkan tidak hanya mampu mengenali tanda awal stroke, tetapi juga segera mengambil tindakan dengan membawa pasien ke fasilitas kesehatan. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam pencegahan sekunder dan penanganan awal stroke di Kabupaten Banjar.
Editor : Nurhidayat