RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU - Daratan Kalimantan Selatan (Kalsel) ternyata tidak sepenuhnya tenang. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, sedikitnya 18 gempa bumi tektonik berskala mikro terekam oleh sensor seismik.
Data Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan yang masuk dalam Pusat Gempabumi Regional XI menunjukkan, aktivitas kegempaan tersebut tersebar di sejumlah wilayah Kalsel.
Kabupaten Balangan, Kotabaru dan Tabalong menjadi daerah yang cukup sering mencatat aktivitas gempa.
Di Balangan, misalnya, gempa dangkal terdeteksi berulang pada Januari, Februari, Maret, April hingga kembali muncul dalam beberapa kejadian pada Juli.
Mayoritas gempa tersebut memiliki magnitudo relatif kecil, berkisar M 2,2 hingga M 3,4. Kedalamannya juga tergolong dangkal, antara 2 hingga 29 kilometer di bawah permukaan tanah.
Karena energinya kecil, sebagian besar gempa mikro tersebut tidak dirasakan masyarakat dan tidak menimbulkan kerusakan.
Namun, kondisi itu bukan berarti aktivitas tektonik di bawah daratan Kalsel bisa diabaikan.
Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan Azhar Rusdin mengingatkan, rangkaian gempa tersebut menunjukkan bahwa aktivitas lempeng dan patahan di kawasan Kalimantan tetap berlangsung.
Alarm dari Pesisir Timur Kalimantan
Aktivitas gempa di Kalsel juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika tektonik regional. Salah satu yang menjadi perhatian adalah aktivitas di sekitar Sesar Mangkalihat di wilayah Kalimantan Timur.
Andi menjelaskan, sejumlah guncangan yang terjadi merupakan aktivitas tektonik dangkal. Pergerakan tersebut berkaitan dengan sistem patahan yang berada di kawasan pesisir timur Kalimantan.
“Aktivitas gempa terjadi di sekitar patahan Mangkalihat segmen Sangkulirang. Patahan tersebut memiliki potensi kekuatan maksimal mencapai M 7,5,” ungkap Andi kepada Radar Banjarmasin, Jumat (21/8/2026).
Potensi tersebut menjadi pengingat bahwa meskipun gempa yang terjadi di Kalsel sejauh ini relatif kecil, masyarakat dan pemerintah daerah tetap perlu memperkuat mitigasi.
Ancaman gempa bukan hanya soal seberapa sering guncangan terjadi, tetapi juga bagaimana kesiapan wilayah menghadapi kemungkinan gempa dengan kekuatan lebih besar.
BMKG Dorong Evaluasi Tata Ruang
Aktivitas tektonik tersebut juga menjadi alasan bagi pemerintah daerah untuk tidak mengabaikan aspek kebencanaan dalam pembangunan.
Pemerintah Provinsi Kalsel maupun pemerintah kabupaten dan kota didorong mengevaluasi tata ruang dengan memasukkan faktor risiko gempa sebagai salah satu pertimbangan.
BMKG juga mendorong pemerintah daerah menyiapkan jalur serta skenario evakuasi yang jelas, terutama di kawasan permukiman dan pusat aktivitas masyarakat.
Selain itu, pemetaan mikrozonasi kerentanan tanah dinilai penting untuk mengetahui karakteristik setiap wilayah secara lebih detail.
“Kami juga mendorong Pemda untuk melakukan pemetaan mikrozonasi sebagai langkah mitigasi untuk pembangunan,” tegasnya.
Pemetaan tersebut diperlukan agar pembangunan infrastruktur, khususnya fasilitas publik, dapat disesuaikan dengan kondisi tanah dan tingkat kerawanan di masing-masing kawasan.
“Kebijakan ini akan memastikan bahwa setiap konstruksi fisik disesuaikan dengan daya dukung tanah dan standar bangunan tahan gempa,” lanjutnya.
Jangan Panik, Tapi Tetap Waspada
Di tengah munculnya rentetan gempa mikro, masyarakat diminta tidak panik. Gempa dengan magnitudo kecil yang terekam BMKG bukan berarti akan selalu diikuti gempa besar.
Namun, kewaspadaan tetap diperlukan.
Masyarakat diminta tidak mudah percaya informasi yang belum terverifikasi dan selalu mengikuti pembaruan dari kanal resmi BMKG.
Jika sewaktu-waktu terjadi guncangan kuat, masyarakat diimbau segera melakukan evakuasi mandiri menuju ruang terbuka yang aman.
“Kami harap masyarakat untuk selalu merujuk pada pembaruan informasi resmi dari kanal BMKG,” pungkasnya.
Rentetan gempa mikro tersebut menjadi pengingat bahwa Kalimantan bukan wilayah yang sepenuhnya bebas dari aktivitas tektonik. Kecilnya magnitudo yang terjadi saat ini justru menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan sebelum bencana yang lebih besar datang.
=========
TIMELINE KEJADIAN SEISMIK KALSEL (Januari- 11 Agustus 2026)
Bulan Januari
* 3 Januari: Kabupaten Balangan (M 2,6 | Kedalaman 4 km)
* 3 Januari: Kabupaten Kotabaru (M 3,1 | Kedalaman 3 km)
* 3 Januari: Kabupaten Balangan (M 2,6 | Kedalaman 29 km)
* 8 Januari: Kabupaten Kotabaru (M 3,1 | Kedalaman 21 km)
* 9 Januari: Kabupaten Hulu Sungai Tengah (M 2,4 | Kedalaman 5 km)
* 10 Januari: Kabupaten Tabalong (M 2,5 | Kedalaman 13 km)
Bulan Februari
* 2 Februari: Kabupaten Kotabaru (M 3,4 | Kedalaman 5 km)
* 27 Februari: Kabupaten Balangan (M 2,5 | Kedalaman 4 km)
Bulan Maret
* 13 Maret: Kabupaten Tapin (M 2,7 | Kedalaman 13 km)
* 23 Maret: Kabupaten Balangan (M 2,5 | Kedalaman 13 km)
* 26 Maret: Kabupaten Balangan (M 2,8 | Kedalaman 16 km)
* 31 Maret: Kabupaten Balangan (M 2,5 | Kedalaman 9 km)
Bulan April
* 20 April: Kabupaten Balangan (M 2,9 | Kedalaman 5 km)
* 22 April: Kabupaten Tabalong (M 2,2 | Kedalaman 4 km)
Bulan Juli
* 9 Juli: Kabupaten Balangan (M 2,7 | Kedalaman 27 km)
* 17 Juli: Kabupaten Balangan (M 2,7 | Kedalaman 2 km)
Bulan Agustus
* 3 Agustus: Kabupaten Tabalong (M 2,8 | Kedalaman 10 km)
* 11 Agustus: Kabupaten Tabalong (M 2,7 | Kedalaman 4 km)
ZONA PALING AKTIF DI KALSEL
Kabupaten Balangan: Mencatatkan intensitas gempabumi paling sering dibandingkan kabupaten lainnya di Kalsel sepanjang 2026.