Karhutla HST Capai 77,78 Hektare, Ribuan Warga Terserang ISPA

Jamaluddin Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 13:30 WIB
BERJIBAKU: BPBD dan Damkar HST saat berjibaku memadamkan titik api.
BERJIBAKU: BPBD dan Damkar HST saat berjibaku memadamkan titik api.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BARABAI – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) terus menjadi perhatian. Dalam kurun waktu satu bulan, tercatat 44 titik kebakaran dengan total luasan mencapai 77,78 hektare.

Data tersebut dihimpun sepanjang 19 Juli hingga 19 Agustus 2026. Dari luasan yang terbakar, 17,67 hektare di antaranya telah berhasil dipadamkan.

Lahan yang terbakar didominasi semak belukar, hutan, lahan rumbia hingga perkebunan.

Kasi Kedaruratan BPBD HST Fitriadinoor mengatakan, berbagai upaya dilakukan untuk mencegah dan menangani karhutla. Mulai dari menyiagakan personel dan peralatan, sosialisasi, imbauan kepada masyarakat, hingga pemantauan titik api.

Petugas juga melakukan patroli, ground check dan pemadaman langsung di lokasi.

“Setiap titik yang dilaporkan langsung kami tindaklanjuti dengan ground check dan pemadaman. Namun ada beberapa titik yang tidak bisa kami jangkau karena medan yang sulit,” ujarnya, Jumat (21/8/2026).

Labuan Amas Selatan Jadi Salah Satu Wilayah Rawan

Kecamatan Labuan Amas Selatan menjadi salah satu wilayah dengan kejadian karhutla cukup banyak. Sejumlah titik di kawasan tersebut bahkan belum dapat ditangani karena akses menuju lokasi yang sulit.

Karhutla juga tercatat terjadi di Kecamatan Pandawan, Batang Alai Utara, Labuan Amas Utara, Barabai, Hantakan, Haruyan dan Batu Benawa.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran lain, yakni memburuknya kualitas udara akibat kabut asap. Terlebih, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih ditemukan di HST.

Fitriadinoor mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan. Warga juga diminta segera melapor apabila menemukan titik api atau kepulan asap.

“Musim kemarau belum berakhir. Kami minta masyarakat tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang bisa memicu kebakaran,” tegasnya.

Ribuan Kasus ISPA, Asap Karhutla Jadi Perhatian

Ancaman karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lahan. Kabut asap yang muncul juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.

Dinas Kesehatan HST mencatat sebanyak 5.055 kasus ISPA sepanjang Juni hingga Juli 2026.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes HST Mualim menjelaskan, ISPA dapat dipicu berbagai faktor, mulai dari virus, bakteri, polusi hingga kondisi ventilasi rumah yang kurang sehat.

Paparan kabut asap akibat karhutla juga dapat menjadi salah satu faktor yang memicu gangguan pernapasan.

“Meski ISPA berbagai penyebabnya, namun masyarakat tetap diminta untuk menjaga kesehatan dan memakai masker jika keluar rumah,” ujarnya.

Di tengah musim kemarau yang belum berakhir, kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu kunci mencegah kebakaran meluas. Satu titik api yang terlambat ditangani dapat berubah menjadi kebakaran yang lebih besar, terutama di kawasan dengan vegetasi yang mudah terbakar.

Editor : Eddy Hardiyanto
karhutla ispa HST