RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kertak Hanyar — Komitmen mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan ramah bagi anak diperkuat melalui Seremonial MoU antara Pusat Kegiatan Gugus (PKG), Gugus, serta satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Kecamatan Kertak Hanyar.
Kegiatan berlangsung di Aula Lantai 2 Gedung 232 PAUD IT Nor Ahmadi, Komplek Pesona Modern, Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Rabu (19/8).
MoU tersebut menjadi bagian dari proses standardisasi Taman Asuh Ramah Anak (TARA) dan Sekolah Ramah Anak (SRA), sekaligus upaya pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan.
Kepala Dinsos P3AP2KB Kabupaten Banjar, Dr. Hj. Erny Wahdini, M.Pd., mengatakan kerja sama tersebut merupakan bagian dari implementasi Kabupaten Layak Anak (KLA), khususnya dalam menghadirkan pendidikan yang ramah dan aman bagi anak.
“Alhamdulillah hari ini MoU sudah bisa dilaksanakan terkait implementasi Kabupaten Layak Anak melalui sekolah ramah anak. Pada tatanan implementasi di satuan pendidikan, sekolah ramah anak dilaksanakan oleh seluruh PAUD se-Kecamatan Kertak Hanyar,” ujarnya.
Ia menyebutkan, terdapat 37 lembaga PAUD yang ikut serta dalam kegiatan tersebut. Diharapkan komitmen bersama itu menjadi salah satu pendorong peningkatan penilaian KLA Kabupaten Banjar pada 2026.
“Kalau sebelumnya Kabupaten Banjar mendapatkan predikat Nindya, target kita tahun ini bisa naik menjadi Utama,” katanya.
Menurut Erny, penerapan pendidikan ramah anak merupakan amanat perlindungan anak. Karena itu, satuan pendidikan harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan bebas dari kekerasan.
Penerapannya, lanjut dia, tidak hanya sebatas pada sarana dan prasarana, tetapi juga bagaimana tenaga pendidik berinteraksi dengan anak.
"Guru tidak boleh membentak atau marah-marah kepada anak. Nanti akan dinilai bagaimana kualifikasinya dan apakah pendidiknya sudah ramah terhadap anak,” jelasnya.
Selain itu, sekolah juga didorong menerapkan standar operasional prosedur (SOP) yang mendukung pemenuhan kebutuhan anak, seperti tata cara mencuci tangan, penggunaan toilet, hingga makan bersama.
Erna menambahkan, pencapaian Kabupaten Banjar sebagai Kabupaten Layak Anak tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja. Seluruh pihak, termasuk Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama yang menaungi satuan pendidikan, perlu bergerak bersama.
“Alhamdulillah semua bergerak dan satu persepsi terkait perwujudan Kabupaten Layak Anak. Tim KLA Dinsos juga sudah menyiapkan dokumen pendukung untuk menuju tingkat Utama,” ujarnya.
Ia berharap dokumen yang telah disiapkan sejalan dengan kondisi nyata di lapangan saat proses penilaian dilakukan.
Sementara itu, Camat Kertak Hanyar, Gt M Noviar Hidayat, mengapresiasi pelaksanaan MoU tersebut. Menurutnya, komitmen bersama harus diwujudkan dalam aksi nyata, bukan sekadar seremoni penandatanganan.
“Harapan kita semua fasilitas sekolah ini ramah anak, terutama metode pendidikan dan inovasi dalam penyelenggaraan pendidikan juga harus ramah anak,” katanya.
Ketua PKG Kecamatan Kertak Hanyar sekaligus Kepala PAUD IT Nor Ahmadi, Ira Septiarini, M.Pd., Gr., mengatakan pelaksanaan kegiatan tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai pihak.
Ia menyebut PAUD IT dan TPA Nor Ahmadi saat ini juga tengah menjalani proses standardisasi TARA. Melalui MoU tersebut, pihaknya berupaya merangkul seluruh kepala sekolah TK, KB dan TPA di Kecamatan Kertak Hanyar.
“Harapannya tentu saja hal ini dapat bermanfaat untuk segala pihak sehingga kami semua dapat membangun generasi emas, anak-anak yang saleh dan salehah, sukses, bahagia dan selamat dunia akhirat,” tuturnya.
Kasi PAUD Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, Mariatul Qibtiah, menegaskan pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi berbagai pihak diperlukan agar tujuan menghadirkan pendidikan bermutu dapat diwujudkan.
“Pendidikan itu tidak bisa hanya berjalan sendiri, perlu ada kolaborasi dan keterlibatan dari pihak lain agar tujuan pendidikan itu terwujud,” katanya.
Pembekalan dan penguatan kapasitas terus dilakukan, terutama ketika terdapat kebijakan atau hal baru yang perlu diterapkan satuan pendidikan.
Upaya tersebut diharapkan mampu menyiapkan anak-anak sebagai generasi yang tumbuh aman, nyaman dan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.