RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Paringin - Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Balangan mulai berdampak pada sektor ketahanan pangan daerah.
Minimnya curah hujan menyebabkan ratusan hektare lahan sawah di sejumlah kecamatan mengalami retak-retak hingga kekeringan ekstrem.
Merespons krisis air di areal pertanian tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Balangan melalui dinas terkait langsung memetakan titik-titik rawan untuk menentukan skala prioritas intervensi. Langkah darurat diambil guna menyelamatkan tanaman padi yang masih bisa dipertahankan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Balangan, Rizkianor Fauzi, mengakui bahwa dampak iklim tahun ini cukup ekstrem terhadap beberapa wilayah sentra pertanian.
"Zona merah salah satunya Batumandi karena bendungannya rusak. Kemudian ada Kecamatan Paringin dan Paringin Selatan yang dampak kekeringannya sangat luar biasa hingga krisis sumber air," jelas Rizki, Selasa (18/8).
Sebagai langkah mitigasi, DKPPP meminta bantuan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk mengerahkan mobil tangki air ke lokasi terdampak. Di samping itu, program irigasi perpompaan bertenaga surya dipercepat di area yang masih memiliki sumber air sekunder.
"Saat ini kami sudah mengoperasikan dua pompa di Riwa dan Bungin. Selanjutnya akan dibangun enam titik lagi di Awayan, Halong, Paringin, dan Paringin Selatan. Masing-masing mesin mampu mengaliri sawah seluas 25 hektare," terangnya.
Meski ancaman gagal panen membayangi, Rizkianor memastikan ketersediaan pangan di Balangan secara kumulatif masih aman dan tidak mengalami defisit.
"Produksi padi kita tahun lalu mencapai lebih dari 83 ton dan terus menunjukkan tren peningkatan. Secara produksi, pemenuhan kebutuhan pangan kita masih surplus," tambahnya.
Namun, upaya intervensi pemerintah di atas kertas berhadapan dengan realitas yang lebih sulit di lapangan. Keterlambatan akses pengairan membuat sejumlah kelompok tani pasrah melihat lahan garapannya mati. Keadaan kian memburuk akibat serangan hama.
Pukulan telak dirasakan para petani di Kecamatan Halong. Ketua Kelompok Tani Desa Binju, Nabhan, mengungkapkan kekeringan tahun ini melumpuhkan perekonomian petani di desanya.
"Tahun ini kami terpaksa gagal panen karena lahan seluas 20 hektare milik kelompok kami benar-benar kering dan tanahnya pecah-pecah," keluh Nabhan.
Penderitaan petani kian bertambah karena cuaca panas ekstrem memicu ledakan populasi hama, sehingga petani menelan kerugian ganda.
"Musim kering ini membuat hama seperti tikus berkembang biak jauh lebih cepat dari biasanya, sehingga merusak sisa tanaman yang ada," pungkasnya.
Editor : Sutrisno