Sekolah Memprihatinkan, Siswa Sampanahan Kotabaru Juga Dihantui Buaya

Jumain Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 15:17 WIB
Salah satu ruangan yang menurut Rahmad masih belum layak dijadikan ruang belajar mengajar di SMAN 1 Sampanahan. (Foto: Rahmad untuk Radar Banjarmasin)
Salah satu ruangan yang menurut Rahmad masih belum layak dijadikan ruang belajar mengajar di SMAN 1 Sampanahan. (Foto: Rahmad untuk Radar Banjarmasin)

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru- Rasa haru dan prihatin menyelimuti Rahmad, Anggota DPRD Kabupaten Kotabaru, usai menghadiri upacara pengibaran bendera Merah Putih memperingati HUT ke-81 RI di Kecamatan Sampanahan, Senin (17/8).

Kebanggaan atas suksesnya para siswa memimpin jalannya upacara seketika berganti keprihatinan saat ia meninjau langsung kondisi fasilitas pendidikan di wilayah tersebut.

Menurutnya, tidak ada yang menyangka, para anggota Paskibra yang tampil memukau pada peringatan detik-detik proklamasi tersebut merupakan siswa-siswi dari kelas jauh SMAN 1 Sampanahan yang berlokasi di Desa Gunung Batu Besar, ibu kota Kecamatan Sampanahan. 

Meski berprestasi, fasilitas yang mereka gunakan untuk menuntut ilmu justru jauh dari kata layak.

"Ruangan kelas belajar sangat memprihatinkan. Tidak ada sekat antar ruangan, tanpa jendela, dan dinding kayu di kanan-kirinya sudah lapuk. Bahkan lantai terasnya berlubang dan rapuh, sangat berbahaya. Kemarin ada guru yang pernah terperosok, bahkan saat kami mau masuk pun harus ekstra hati-hati," ungkap Rahmad, Selasa (18/8) siang.

Tak hanya fisik bangunan yang rusak parah, sarana prasarana seperti meja dan kursi pun terpaksa diperbaiki secara swadaya melalui patungan orang tua murid hingga para guru. 

Rahmad juga menyentil kepedulian pihak sekolah induk terkait alokasi Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dinilai belum tersalurkan secara proporsional untuk pembenahan fasilitas kelas jauh ini.

Selain kondisi bangunan, kendala geografis menjadi alasan utama mendesaknya pemisahan sekolah ini. Untuk mencapai SMAN 1 Sampanahan di daratan seberang, siswa harus menempuh perjalanan darat selama 1,5 jam. 

Jika lewat jalur sungai, waktu tempuh memang lebih cepat sekitar 1 jam, namun memicu ancaman keselamatan.

"Sungai Sampanahan saat ini terkenal dengan keberadaan buaya muara yang sangat ganas. Sangat tidak memungkinkan dan berbahaya bagi anak-anak jika harus pulang-pergi melintasi sungai setiap hari," jelasnya.

Melihat antusiasme belajar yang tinggi di mana hampir 100% lulusan SMP setempat menampung sekitar 100 siswa di kelas jauh ini serta melayani siswa dari kawasan Pamukan Selatan Rahmad menegaskan komitmennya untuk mengawal proses kemandirian sekolah tersebut.

Saat ini, pihak pemerintah desa bersama masyarakat setempat telah menyiapkan lahan hibah seluas 2 hektar di Desa Gunung Batu Besar yang tengah diproses legalitas sertifikatnya. Lahan ini disiapkan sebagai cikal bakal pembangunan fisik SMAN 2 Sampanahan.

"Memang jika dilihat dari tahapan proseduilnya tergolong berat. Namun, karena ini kewenangan Pemerintah Provinsi, kami meminta Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan untuk mengkaji kembali berdasarkan pertimbangan kondisi geografis dan potensi SDM di sini. Pihak Kabid SMA dan bidang Sarpras Provinsi pun pada dasarnya siap mendukung," tegas Rahmad.

Ia berharap seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah desa, kecamatan, hingga masyarakat, dapat bersinergi agar pendirian SMAN 2 Sampanahan yang mandiri dan layak dapat segera terealisasi.

Editor : M Oscar Fraby
Kotabaru Buaya DPRD Kotabaru