RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Sempat terpuruk hingga Rp1.300–Rp1.500 per kilogram, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat pekebun Kabupaten Balangan kini mulai bangkit.
Memasuki Agustus 2026, harga sawit di Kecamatan Awayan relatif stabil di kisaran Rp2.200–Rp2.500 per kilogram. Kondisi ini menjadi angin segar bagi pekebun setelah beberapa bulan sebelumnya harus menghadapi penurunan harga cukup tajam.
Stabilnya harga membuat pekebun sedikit lebih lega, terutama di tengah kondisi harga komoditas hortikultura yang cenderung berubah-ubah.
Diki Rahmani, pekebun sawit asal Kecamatan Awayan, mengatakan harga saat ini cukup menguntungkan bagi pekebun. Namun, kenaikan harga belum sepenuhnya diikuti peningkatan produksi.
Musim kemarau dengan cuaca panas membuat proses pemupukan menjadi lebih sulit. Tanah yang kering membuat nutrisi dari pupuk tidak terserap secara maksimal oleh tanaman.
“Harga sawit sekarang tergolong stabil dan tidak ada penurunan signifikan. Tapi di musim panas ini pupuk sulit meresap ke tanah, sehingga produksi buah sedikit menurun kalau dibandingkan saat musim hujan,” ucap Diki, Selasa (18/8/2026).
Kemarau Bawa Ancaman Hama
Persoalan pekebun tak hanya soal produktivitas yang menurun. Musim kemarau juga meningkatkan kewaspadaan terhadap organisme pengganggu tanaman.
Menurut Diki, sejumlah tanaman sawit mulai menghadapi serangan hama yang berpotensi mengganggu pertumbuhan daun hingga menurunkan kualitas tandan buah segar.
“Penyakit di musim panas ini kerap menyerang tanaman, seperti kutu kebul dan kondisi daun yang terbakar akibat serangan hama ulat,” tambahnya.
Meski begitu, musim kemarau juga memberikan keuntungan bagi pekebun dari sisi distribusi hasil panen.
Jalur perkebunan yang sebelumnya mudah becek menjadi lebih kering. Kendaraan pengangkut pun lebih mudah keluar masuk kebun sehingga waktu dan biaya angkut dapat ditekan.
“Sisi enaknya di musim kemarau ini pengangkutan hasil panen berjalan sangat mulus. Tanah di kebun kering dan tidak becek, jadi mobil angkutan bisa gampang keluar masuk,” tuturnya.
Para pekebun berharap harga sawit bertahan di level saat ini agar dapat menopang biaya perawatan kebun, terutama ketika produksi menghadapi tekanan akibat kemarau.
Di sisi lain, pekebun juga berharap instansi terkait memberikan edukasi dan pendampingan mengenai pola pemupukan saat curah hujan rendah serta penanganan hama seperti kutu kebul dan ulat.
Dengan harga yang mulai pulih, pekebun kini berharap satu hal: produksi tetap terjaga dan ancaman hama tidak berkembang menjadi gagal panen.
Editor : Eddy Hardiyanto