RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KANDANGAN - Berwisata tak sekadar datang, menikmati pemandangan, lalu pulang membawa foto. Di balik setiap destinasi, ada cerita, sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang layak dikenal wisatawan.
Gagasan itulah yang diangkat Muhammad Aditya, Putra Pariwisata Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) 2025, melalui inovasi Amandit Edu.
Mahasiswa Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) tersebut akan membawa inovasinya dalam Seleksi Pemilihan Putra Putri Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan 2026 pada 24-29 Agustus 2026.
Amandit Edu merupakan platform digital berbasis etnopedagogi yang dirancang sebagai ruang bagi pelaku wisata, pegiat budaya, dan komunitas lokal untuk berbagi informasi mengenai potensi wisata dan budaya di Kalimantan Selatan.
Aditya melihat masih banyak wisatawan yang mengenal sebuah destinasi hanya dari sisi keindahannya. Sementara cerita, sejarah, hingga kearifan lokal yang melekat di dalamnya belum banyak diketahui.
“Misalnya orang datang ke Loksado, mungkin mereka tahu tempatnya bagus dan bisa menikmati alamnya. Tapi belum tentu mereka tahu cerita, budaya, atau kearifan lokal yang ada di sana,” kata Aditya, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan lahirnya Amandit Edu. Melalui platform ini, masyarakat lokal tidak hanya berperan sebagai pendamping wisatawan, tetapi juga menjadi sumber cerita tentang daerahnya sendiri.
“Jadi masyarakat lokal tidak hanya menjadi orang yang mengantar wisatawan. Mereka juga bisa menjadi orang yang menceritakan daerahnya sendiri,” ujarnya.
Kenalkan Budaya Sejak Dini
Amandit Edu tidak hanya ditujukan kepada wisatawan. Platform tersebut juga menyasar anak-anak agar lebih mengenal budaya dan potensi daerah sejak dini.
Konten akan dikemas secara sederhana dan dekat dengan dunia anak. Dengan begitu, pengenalan pariwisata dan budaya lokal tidak terasa seperti pembelajaran yang kaku.
Aditya menilai pengenalan sejak dini penting agar generasi muda tidak semakin jauh dari budaya dan kearifan lokal.
“Kita ingin anak-anak juga mengenal daerahnya sendiri. Jangan sampai mereka lebih banyak tahu tentang tempat lain, sementara budaya dan potensi yang ada di daerah sendiri justru tidak mereka kenal,” tuturnya.
Tak hanya mengenalkan destinasi, Amandit Edu juga diharapkan membantu wisatawan memahami cara bersikap ketika berkunjung ke suatu daerah.
Wisatawan nantinya dapat memperoleh informasi mengenai adat, budaya, hingga hal-hal yang perlu diperhatikan selama berada di lokasi wisata.
“Harapannya wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati tempatnya, tetapi juga memahami dan menghargai masyarakat serta budaya yang ada di sana,” katanya.
Melalui Amandit Edu, Aditya ingin menghadirkan ruang bersama bagi pelaku wisata dan masyarakat lokal untuk mengenalkan potensi daerah sekaligus memberikan edukasi kepada wisatawan dan generasi muda.
Inovasi tersebut diharapkan menjadi salah satu cara mendorong pariwisata Kalimantan Selatan yang tidak hanya menjual keindahan destinasi, tetapi juga menjaga cerita, budaya, dan keberadaan masyarakat lokal di dalamnya.
Editor : Eddy Hardiyanto