Krisis Air Bersih di Kab Banjar Meluas, BPBD Salurkan Lebih dari 1 Juta Liter Air Bersih

M Fadlan Zakiri • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:46 WIB
DISTRIBUSI AIR: Petugas BPBD Kabupaten Banjar menyalurkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga di tengah meluasnya dampak kekeringan. (BPBD BANJAR)
DISTRIBUSI AIR: Petugas BPBD Kabupaten Banjar menyalurkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga di tengah meluasnya dampak kekeringan. (BPBD BANJAR)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, MARTAPURA – Krisis air bersih di Kabupaten Banjar terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjar mencatat distribusi air telah menjangkau 41 desa di 12 kecamatan. Hingga pekan lalu, volume air yang disalurkan mencapai 1.215.450 liter.

Bantuan tersebut diberikan karena sejumlah sumber air warga mengering akibat kemarau. Kondisi diperparah dengan pencemaran air Sungai Martapura yang membuat sumber air tersebut tidak dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sebaran wilayah yang membutuhkan pasokan air cukup luas. Di antaranya Kecamatan Karang Intan dengan delapan desa, Astambul tujuh desa, Cintapuri Darussalam enam desa, serta masing-masing empat desa di Beruntung Baru dan Martapura Barat.

Selain itu, distribusi juga menjangkau sejumlah desa di Tatah Makmur, Gambut, Sungai Tabuk, Martapura, Mataraman, Martapura Timur, dan Sambung Makmur.

BPBD Banjar juga telah meminjamkan 115 tandon yang tersebar di sejumlah wilayah. Tandon tersebut menjadi tempat penampungan agar air yang didistribusikan dapat dimanfaatkan masyarakat secara bertahap.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar Wasis Nugraha mengatakan penyaluran dilakukan berdasarkan hasil pemantauan dan koordinasi di lapangan. Bantuan diarahkan ke wilayah yang membutuhkan dukungan pasokan air.

“Kami terus berupaya memastikan kebutuhan air bersih masyarakat dapat terpenuhi. Distribusi dilakukan berdasarkan hasil pemantauan dan koordinasi di lapangan,” ujar Wasis.

Kebutuhan air bersih bahkan masih muncul di sejumlah fasilitas publik. Pada Senin (17/8), BPBD kembali menyalurkan 5.000 liter air ke Desa Lok Tamu, Kecamatan Mataraman. Air tersebut digunakan untuk mengisi tiga tandon dan penampungan lain yang disiapkan bagi masyarakat.

Persoalan kekeringan berlangsung bersamaan dengan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Laporan BPBD pada 14 Agustus mencatat enam titik hotspot satelit di Kabupaten Banjar. Empat titik berada di Cintapuri Darussalam, sedangkan masing-masing satu titik terpantau di Mataraman dan Paramasan. “Kami mengimbau masyarakat agar arif dan bijak menggunakan air bersih. Gunakan air secara efisien,” pesan Wasis.

Tak hanya ketersediaan air berkurang, warga Desa Bakambat, Kecamatan Aluh-Aluh, juga harus merasakan kualitas air yang tersisa. Hadriani, warga setempat mengaku, air sumur yang selama ini menjadi sumber kebutuhan sehari-hari berubah menjadi asin.

Menurutnya, kondisi air menjadi salah satu persoalan yang paling dirasakan warga selama kemarau. Sumur warga masih memiliki air, tetapi rasanya asin sehingga tidak bisa lagi diandalkan seperti saat kondisi normal. “Sekarang airnya asin. Sumur warga juga sudah asin. Jadi, meskipun masih ada air, tidak bisa digunakan seperti biasanya,” keluhnya. (zkr/mof)

Editor : Arief M
bpbd banjar air bersih kemarau kekeringan kabupaten banjar