RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin memberikan edukasi kepada santri Pondok Pesantren yang berlokasi di Banjarbaru, terkait bahaya bakteri Escherichia coli (E. coli) pada air sumur yang digunakan untuk kebutuhan higiene dan sanitasi.
Kegiatan bertajuk “Deteksi dan Edukasi Bahaya Escherichia coli pada Air Sumur oleh PLP sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Bawaan Air” tersebut diikuti 30 santri. Kegiatan dikemas dalam bentuk edukasi dan praktik pemeriksaan kualitas air secara langsung.
Ketua Tim PkM sekaligus Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP), Fatmi Indah Hati, S.Si., M.Si., mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan kompetensi PLP dalam memperkenalkan ilmu dan teknologi laboratorium kepada masyarakat.
“Air yang terlihat jernih belum tentu aman secara mikrobiologis. Kontaminasi E. coli tidak dapat diketahui hanya dari warna, bau, maupun kejernihan air,” ujarnya.
Menurutnya, pemahaman tersebut penting bagi santri karena air sumur menjadi salah satu sumber air yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan pesantren. Kontaminasi bakteri dapat meningkatkan risiko penyakit bawaan air apabila kualitas air tidak diperhatikan.
Dalam kegiatan tersebut, santri tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengikuti praktik pengambilan sampel air secara aseptis hingga pemeriksaan E. coli menggunakan metode membran filter.
Tim juga memperkenalkan TAPiH Coli (Teknologi Alat Penyaring & Identifikasi Higienis Coli), yakni modifikasi alat yang dikembangkan untuk membantu proses filtrasi dalam pemeriksaan mikrobiologi air agar lebih praktis dan mudah diaplikasikan.
Kegiatan turut melibatkan Siti Khairunnisya, S.ST., M.Si. dan Muhammad Fadhil Rahman, S.Tr.Gz., bersama mahasiswa Program Studi Sanitasi Program Diploma Tiga dan Program Studi Sanitasi Lingkungan Program Sarjana Terapan, yakni Muhammad Badryansyah, Achmad Faroq, Nada Zakiya Mahsula Achmad, Elis Nurazizah, dan Naima Fadillah.
Hasil evaluasi melalui pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan santri. Peningkatan tersebut mencakup pemahaman mengenai kualitas air untuk higiene sanitasi, bahaya kontaminasi E. coli, penyakit bawaan air (waterborne disease), serta langkah-langkah pencegahannya.
Pimpinan Pondok Pesantren yang diwakili Ustadz Ahmad Mujahit mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, edukasi dan praktik langsung memberikan pengalaman baru bagi santri dalam memahami pentingnya menjaga kualitas air.
“Kami mengapresiasi kegiatan ini karena memberikan pengetahuan sekaligus pengalaman praktik kepada para santri tentang pentingnya menjaga kualitas air. Kami berharap ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Selain edukasi dan praktik pemeriksaan air, tim PkM juga memperkenalkan SATRIA AIR (Santri Terampil dan Siaga Air) sebagai upaya menumbuhkan kepedulian santri terhadap kualitas air di lingkungan pesantren.
Program tersebut diharapkan dapat mendorong santri menjadi agen edukasi bagi teman sebaya dalam menjaga kebersihan sumber air, tempat penampungan air, serta menerapkan perilaku higiene dan sanitasi yang baik.
Melalui kegiatan ini, tim PkM mendorong terciptanya lingkungan pesantren yang lebih peduli terhadap kualitas air sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit bawaan air.