RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru - Suasana malam di Gang Hasanah, Desa Dirgahayu, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru, terasa berbeda menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Biasanya, malam menjadi waktu bagi warga beristirahat setelah menjalani aktivitas masing-masing. Namun, memasuki Agustus, gang tersebut justru semakin ramai.
Suara tawa dan obrolan warga terdengar dari sejumlah rumah. Sesekali, suara adu gertak dari meja permainan ikut memecah suasana. Bukan pertengkaran, melainkan keseruan ibu-ibu yang tengah mengikuti lomba domino dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Lomba tersebut bukan sekadar ajang adu kepiawaian memainkan kartu. Lebih dari itu, kegiatan menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul dan mempererat silaturahmi.
Pesertanya pun beragam. Ibu-ibu muda hingga mereka yang sudah lanjut usia duduk bersama di satu meja. Kesibukan sebagai seorang ibu pun tetap berjalan di sela pertandingan.
Ada peserta yang sesekali mengurus anaknya. Ada pula yang santai mengocok kartu sambil menimang buah hati yang tertidur.
Tawa pecah ketika seorang peserta mendapatkan kartu yang dianggap menguntungkan. Suasana semakin riuh saat permainan memasuki babak penentuan.
Meski dikemas dalam bentuk perlombaan, persaingan bukan menjadi tujuan utama. Hadiah yang disiapkan panitia pun bukan alasan utama para ibu mengikuti kegiatan tersebut.
Bagi mereka, kesempatan berkumpul, bercengkerama dan bertemu tetangga jauh lebih berarti.
Semangat itulah yang membuat lomba domino setiap tahun selalu mendapat sambutan warga Gang Hasanah.
Ketua Pelaksana Lomba, M Zaini Rahman, mengatakan kegiatan tersebut rutin digelar setiap tahun menjelang perayaan HUT Kemerdekaan RI.
Menurutnya, lomba domino menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Agustusan sekaligus sarana mempererat hubungan antarwarga.
“Alhamdulillah, warga selalu antusias dan senang ikut memeriahkan,” kata Zaini kepada Radar Banjarmasin, Selasa (11/8).
Zaini menjelaskan, lomba domino tidak hanya diperuntukkan bagi kaum pria. Ibu-ibu juga mendapat kesempatan untuk ikut meramaikan kegiatan.
Namun, jadwal pertandingan dibuat berbeda agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari para ibu yang sebagian besar masih harus mengurus rumah dan keluarga.
“Kalau bapak-bapak tanding tiap malam. Untuk ibu-ibu jadwalnya khusus malam Minggu. Yang penting semua bisa kumpul dan menjaga kebersamaan,” ujarnya.
Aturan pertandingan dibuat sederhana. Peserta yang memenangkan pertandingan berhak melaju ke babak berikutnya. Sementara peserta yang kalah tidak perlu terlalu kecewa karena panitia tetap menyiapkan hadiah hiburan berupa sebungkus mi goreng.
Hadiah sederhana itu justru menambah suasana santai dalam perlombaan. Menang atau kalah bukan persoalan utama. Yang terpenting, warga dapat berkumpul dan ikut merasakan semarak perayaan kemerdekaan.
Di balik meriahnya lomba, terdapat peran anak-anak muda setempat. Panitia kegiatan sepenuhnya digerakkan para pemuda yang rata-rata masih berusia di bawah 30 tahun.
Mereka memastikan seluruh rangkaian lomba berjalan lancar, mulai menyiapkan tempat, mengatur jadwal pertandingan hingga menyiapkan hadiah.
Keterlibatan pemuda menjadi bagian lain dari semangat Agustusan di Gang Hasanah. Generasi muda turut mengambil peran dalam menjaga tradisi kebersamaan yang telah tumbuh di lingkungan tersebut.
Bagi Gilang, salah seorang panitia, kemeriahan Agustusan bukan sekadar memasang bendera, menggelar perlombaan atau memburu hadiah. Ada nilai kebersamaan yang ingin terus dipertahankan.
Lomba domino menjadi salah satu cara sederhana warga Gang Hasanah untuk merawatnya. Di sekitar meja permainan, ibu-ibu dari berbagai usia dapat duduk bersama, berbincang dan tertawa tanpa sekat usia.
Semangat kemerdekaan pun terasa bukan hanya melalui perlombaan, tetapi juga dari kebersamaan warga.
Di tengah kesibukan masing-masing, momen seperti ini menjadi kesempatan bagi warga untuk kembali saling menyapa dan berkumpul.
“Yang penting semua bisa kumpul dan menjaga kebersamaan,” ujar Gilang.
Editor : Sutrisno