RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjar – Penggunaan gawai yang semakin masif di kalangan anak usia dini menjadi perhatian para akademisi Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin. Melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk GASAK (Gerakan Stimulasi Kecerdasan Sosial Anak), tim dosen mengajak anak-anak kembali bermain permainan tradisional sebagai upaya meningkatkan kemampuan bersosialisasi.
Program yang dilaksanakan di Desa Pasar Jati, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar ini dipimpin oleh Rusmilawaty, SKM., M.PH bersama anggota tim Norlaila Sofia, S.Si.T., M.Keb dan Vonny Khresna Dewi, S.Si.T., M.Kes.
Ketua tim, Rusmilawaty, mengatakan masa kanak-kanak merupakan periode penting dalam pembentukan karakter sosial. Namun, perkembangan teknologi digital membuat banyak anak lebih akrab dengan layar gawai dibandingkan permainan bersama teman sebaya.
"Anak-anak membutuhkan ruang untuk berinteraksi secara langsung agar mampu belajar berbagi, bekerja sama, berkomunikasi, dan memahami perasaan orang lain," ujarnya.
Berdasarkan hasil pengamatan di Desa Pasar Jati, sebagian anak usia prasekolah masih mengalami kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya, kurang percaya diri, dan lebih memilih bermain sendiri menggunakan gawai.
Melalui program GASAK, tim memberikan edukasi kepada orang tua, guru PAUD, kader kesehatan, bidan desa, serta pemerintah desa mengenai pentingnya stimulasi sosial sejak dini. Kegiatan dikemas secara interaktif melalui penyuluhan, pelatihan, pendampingan, hingga praktik bermain bersama menggunakan permainan tradisional.
Permainan seperti bakiak, badaku, dan lompat tali dipilih karena mampu melatih kerja sama, kepemimpinan, empati, kesabaran, disiplin, hingga kemampuan menyelesaikan konflik.
Permainan bakiak mengajarkan anak menyelaraskan langkah demi mencapai tujuan bersama. Badaku melatih kesabaran serta menghargai giliran, sedangkan lompat tali membantu anak belajar berbagi peran, memahami perasaan teman, dan menyelesaikan masalah secara mandiri.
Sebanyak 20 orang tua beserta anaknya, empat guru PAUD, dan sebelas kader kesehatan mengikuti kegiatan tersebut.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai pentingnya stimulasi sosial, pembatasan penggunaan gawai, serta pemanfaatan permainan tradisional sebagai media pembelajaran anak.
Tidak hanya itu, perubahan positif juga terlihat pada perilaku anak. Mereka mulai terbiasa menyapa teman, bermain dalam kelompok, berbagi alat permainan, serta menunjukkan empati kepada sesama.
Rusmilawaty menegaskan tantangan saat ini bukan menghilangkan teknologi dari kehidupan anak, melainkan menggunakannya secara bijaksana.
Ia berharap kolaborasi antara orang tua, sekolah, tenaga kesehatan, dan pemerintah desa dapat terus dilakukan agar anak-anak tumbuh menjadi generasi yang sehat, tangguh, dan memiliki karakter sosial yang kuat.
Editor : Nurhidayat