BPS Catat Pengangguran Kalsel Bertambah Jadi 85.336 Orang pada Mei 2026

M Fadlan Zakiri • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 13:24 WIB
PASAR KERJA: Sejumlah pencari kerja mengisi formulir pendaftaran saat mengikuti proses rekrutmen perusahaan pada Job Fair yang digelar Dinaker Kalsel, beberapa waktu lalu.
PASAR KERJA: Sejumlah pencari kerja mengisi formulir pendaftaran saat mengikuti proses rekrutmen perusahaan pada Job Fair yang digelar Dinaker Kalsel, beberapa waktu lalu.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM,  BANJARBARU - Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kalimantan Selatan pada Mei 2026 naik tipis menjadi 3,81 persen. Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), jumlah penganggur mencapai 85.336 orang atau bertambah sekitar 485 orang dibanding Februari 2026.

Meski demikian, kondisi tersebut belum mencerminkan pelemahan pasar kerja. Sebaliknya, jumlah penduduk yang bekerja justru masih bertambah, bahkan proporsi pekerja formal ikut mengalami peningkatan.

Angkatan Kerja dan Penyerapan Tenaga Kerja Sama-sama Naik

Kepala BPS Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Mukhanif, mengatakan jumlah angkatan kerja pada Mei 2026 mencapai 2,24 juta orang atau bertambah sekitar 6,75 ribu orang dibanding Februari 2026.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 2,16 juta orang telah bekerja. Artinya, terjadi penambahan sekitar 6,26 ribu penduduk bekerja dalam kurun tiga bulan terakhir.

"Jumlah penganggur pada Mei 2026 mencapai 85.336 orang," ujar Mukhanif dalam rilis yang disampaikan, Rabu (5/8/2026).

Pertanian Masih Jadi Penyerap Tenaga Kerja Terbesar

BPS mencatat sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja di Kalimantan Selatan.

Hingga Mei 2026, sektor tersebut menyerap 683,47 ribu pekerja atau sekitar 31,70 persen dari total penduduk bekerja.

Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan besar dan eceran dengan kontribusi 17 persen, disusul industri pengolahan sebesar 7,46 persen.

Namun, terjadi pergeseran komposisi tenaga kerja dibanding Februari 2026.

Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat penambahan pekerja terbesar, yakni 15,39 ribu orang. Kenaikan juga terjadi pada sektor penyediaan listrik, gas, air, serta pengelolaan limbah sebanyak 4,95 ribu orang. Sementara sektor kesenian, aktivitas jasa lainnya, aktivitas rumah tangga, dan aktivitas badan internasional bertambah 4,76 ribu pekerja.

Sebaliknya, sektor perdagangan besar dan eceran justru mengalami penurunan tenaga kerja paling besar, yakni sebanyak 17,93 ribu orang dibanding Februari 2026.

Pekerja Formal Bertambah

Di tengah kenaikan angka pengangguran, kualitas pasar kerja justru menunjukkan perbaikan.

Mukhanif menjelaskan, jumlah pekerja formal pada Mei 2026 mencapai 955,51 ribu orang atau 44,32 persen dari total penduduk bekerja.

"Proporsi pekerja formal meningkat 1,28 persen poin dibanding Februari 2026," katanya.

Sementara itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) tercatat sebesar 69,04 persen. Meski turun tipis dibanding Februari 2026 yang mencapai 69,07 persen, angka tersebut masih menjadi yang tertinggi di Pulau Kalimantan.

Menurut Mukhanif, penurunan TPAK di Kalimantan Selatan merupakan yang paling kecil dibanding provinsi lain di Kalimantan.

Sebagai perbandingan, TPAK Kalimantan Barat sebesar 67,76 persen, Kalimantan Tengah 66,58 persen, Kalimantan Timur 66,19 persen, dan Kalimantan Utara 67,88 persen.

Selain itu, TPT Kalimantan Selatan sebesar 3,81 persen juga masih lebih rendah dibanding rata-rata nasional yang mencapai 4,65 persen. Dari lima provinsi di Kalimantan, hanya Kalimantan Timur yang memiliki TPT di atas rata-rata nasional, yakni 5,24 persen.

Lulusan SMP Paling Banyak Menganggur

BPS juga menemukan perbedaan tingkat pengangguran berdasarkan jenjang pendidikan.

Lulusan SMP menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi di Kalimantan Selatan, yakni mencapai 5,77 persen.

Sebaliknya, lulusan perguruan tinggi mencatat tingkat pengangguran paling rendah, hanya 2,28 persen.

Menurut Mukhanif, kondisi tersebut menunjukkan bahwa karakteristik pengangguran tidak hanya dipengaruhi jumlah angkatan kerja, tetapi juga tingkat pendidikan masyarakat.

Pengangguran Lebih Tinggi di Perkotaan

Perbedaan juga terlihat berdasarkan wilayah tempat tinggal.

TPT di kawasan perkotaan mencapai 4,26 persen, lebih tinggi dibanding wilayah perdesaan yang sebesar 3,26 persen.

Dari sisi jenis kelamin, tingkat pengangguran laki-laki tercatat 3,98 persen, sedangkan perempuan 3,53 persen.

"Dibanding Februari 2026, TPT laki-laki mengalami penurunan, sedangkan TPT perempuan justru meningkat," ujar Mukhanif.

BPS juga mencatat mayoritas pekerja di Kalimantan Selatan telah bekerja penuh. Sebanyak 63,54 persen bekerja dengan jam kerja normal, sementara 36,46 persen lainnya masih bekerja kurang dari 35 jam per minggu.

Di sisi lain, tingkat setengah pengangguran turun menjadi 6,22 persen. Penurunan ini menunjukkan semakin sedikit pekerja yang bekerja di bawah jam kerja normal namun masih mencari tambahan pekerjaan.

Secara keseluruhan, hasil Sakernas Mei 2026 menggambarkan pasar kerja Kalimantan Selatan masih mampu menyerap tambahan tenaga kerja.

Meski jumlah penganggur bertambah tipis, penyerapan tenaga kerja tetap meningkat, jumlah pekerja formal terus bertambah, dan tingkat partisipasi angkatan kerja masih menjadi yang tertinggi di Pulau Kalimantan.

"Pada Mei 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka Kalimantan Selatan sebesar 3,81 persen. Artinya, terdapat sekitar tiga hingga empat orang yang menganggur dari setiap 100 orang angkatan kerja," tutup Mukhanif.

Editor : Eddy Hardiyanto
pengangguran Kalsel bps