Sanggar Raden Sanjaya Jaga Warisan Kuda Gepang

Rasidi Fadli • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 15:28 WIB
TERUS LESTARIKAN: Sanggar Raden Sanjaya di Desa Tangkawang Kecamatan Bakarangan terus lestarikan kesenian kuda gepang.
Foto Firman
TERUS LESTARIKAN: Sanggar Raden Sanjaya di Desa Tangkawang Kecamatan Bakarangan terus lestarikan kesenian kuda gepang. Foto Firman

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS COM, Rantau – Di tengah derasnya arus budaya modern, masih ada sekelompok masyarakat yang setia menjaga denyut warisan leluhur. 

Di Desa Tangkawang, Kecamatan Bakarangan, denting musik tradisional yang berpadu dengan derap kaki para penari Kuda Gepang masih menjadi penanda bahwa jejak kebudayaan Banjar belum kehilangan ruangnya.

Bagi masyarakat Banjar, Kuda Gepang bukan sekadar hiburan dalam pesta pernikahan. 

Di balik properti kuda dari anyaman bambu, tersimpan kisah panjang tentang kehidupan kerajaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Itulah yang hingga kini tetap dipertahankan Sanggar Raden Sanjaya.

Setiap pementasan disusun layaknya sebuah teater rakyat. Ada raja yang menjadi pusat kekuasaan, patih sebagai panglima perang sekaligus penasehat kerajaan, amban atau dayang yang melengkapi kehidupan istana, prajurit hingga para pemusik. Semua karakter bergerak mengikuti alur cerita yang telah diwariskan sejak lama.

Ketua Sanggar Kuda Gepang Raden Sanjaya, Supriadi, mengatakan kelompoknya diperkuat 33 personel yang masing-masing memegang peran berbeda dalam menggambarkan sebuah kisah kerajaan.

"Seluruh personel memiliki tugas masing-masing. Ada yang menjadi raja, patih, amban, prajurit hingga pemain musik. Semua menyatu menjadi satu cerita kerajaan dalam setiap pertunjukan," ujarnya.

Bagi Sanggar Raden Sanjaya, menjaga Kuda Gepang bukan sekadar mempertahankan sebuah pertunjukan. Yang dijaga adalah ruh cerita, karakter, hingga tata pementasan yang menjadi identitas kesenian tersebut. Karena itulah alur kerajaan yang menjadi ciri khas Kuda Gepang tidak pernah diubah meski zaman terus berkembang.

Di setiap hentakan musik tradisional, tersimpan pesan tentang kepemimpinan, keberanian, kesetiaan, dan kebersamaan. Nilai-nilai itu diwariskan bukan melalui buku sejarah, melainkan melalui panggung rakyat yang hidup di tengah masyarakat Banjar.

Selama ini, Kuda Gepang Raden Sanjaya rutin tampil mengisi resepsi pernikahan, hajatan masyarakat hingga berbagai festival budaya. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat Tapin.

Namun, tantangan terbesar kini bukan lagi mencari panggung pertunjukan, melainkan memastikan ada generasi penerus yang bersedia mempelajari setiap gerak, irama, dan kisah yang terkandung di dalamnya.

Karena itu, Supriadi berharap perhatian pemerintah daerah dan masyarakat terus diberikan agar regenerasi pelaku seni berjalan. Menurutnya, Kuda Gepang bukan hanya milik sanggar, melainkan bagian dari identitas budaya Banjar yang harus dijaga bersama.

"Kalau generasi muda tidak mau belajar, lama-kelamaan kesenian ini bisa hilang. Padahal Kuda Gepang adalah warisan leluhur yang menyimpan sejarah dan menjadi kebanggaan masyarakat Banjar, khususnya di Tapin," tutupnya.

Editor : Arif Subekti
ada sekelompok masyarakat setia menjaga denyut warisan leluhur desa tangkawng kabupaten tapin