Kalah Saing dengan Belanja Daring, Pasar Paringin Nyaris Mati Suri Ditinggal Pembeli

M Dirga • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 15:44 WIB
Suasana deretan toko di Pasar Paringin yang kini tampak sepi dari aktivitas jual beli akibat menurunnya jumlah pengunjung dan beralihnya kebiasaan belanja masyarakat ke sistem daring. (M Dirga/ Radar Banjarmasin)
Suasana deretan toko di Pasar Paringin yang kini tampak sepi dari aktivitas jual beli akibat menurunnya jumlah pengunjung dan beralihnya kebiasaan belanja masyarakat ke sistem daring. (M Dirga/ Radar Banjarmasin)

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Jantung perekonomian Kota Paringin kini seolah kehilangan denyutnya. Kondisi Pasar Paringin yang selama ini menjadi ikon daerah perlahan mulai ditinggalkan pembeli, menyisakan deretan toko yang tutup dan lorong-lorong sepi tanpa aktivitas perdagangan yang berarti.

Dari total lebih dari 300 unit toko yang tersedia di kawasan tersebut, saat ini hanya tersisa sekitar 170 unit yang masih beroperasi. Ironisnya, sebagian dari toko yang didata aktif tersebut bahkan tidak lagi digunakan sebagai tempat berjualan, melainkan hanya dialihfungsikan menjadi gudang penyimpanan barang oleh para pemiliknya.

Fenomena lesunya pusat perbelanjaan ini memicu rasa prihatin dari masyarakat setempat. Adi, salah seorang warga asli Paringin, mengaku sangat kecewa melihat lambatnya penanganan dari instansi terkait dalam menyikapi matinya geliat ekonomi di pasar kebanggaan warganya tersebut.

"Kami sebagai warga asli Paringin sangat sedih dan kecewa melihat kondisi pasar yang kami banggakan ini sekarang sudah sepi bagaikan kuburan di tengah kota," keluh Adi.

Ia menilai kemunduran ini tidak lepas dari minimnya terobosan dari pihak pengelola pasar selama beberapa tahun terakhir. Menurutnya, pemerintah daerah melalui Unit Pelaksana Teknis atau UPT Pasar harus segera mengambil langkah kreatif merespons situasi agar kawasan tersebut bisa kembali hidup.

Keluhan warga tersebut nyatanya selaras dengan kondisi riil yang diakui oleh pihak pengelola pasar sendiri. Arus perpindahan pedagang yang memilih menutup lapak memang tidak bisa dihindari akibat semakin menurunnya tingkat kunjungan masyarakat untuk berbelanja secara langsung.

Sekretaris Pengelola Pasar Paringin, Hendri membenarkan bahwa dalam beberapa bulan hingga setahun terakhir, banyak pedagang yang memilih angkat kaki. Sepinya pembeli membuat para pedagang kesulitan memutar perputaran modal dagangan mereka.

"Kita juga menunggu inovasi-inovasi yang akan dilakukan oleh UPT Pasar Paringin, agar dapat menjadikan Pasar Paringin menjadi sentra ekonomi masyarakat Kabupaten Balangan dan sekitarnya," sebut Hendri.

Matinya denyut nadi Pasar Paringin ini tak pelak memancing reaksi dari jajaran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Balangan. Pihak legislatif menilai perubahan pola konsumsi masyarakat seharusnya sudah bisa diantisipasi sejak awal oleh pengelola pasar tanpa harus menunggu kondisi menjadi parah.

Wakil Ketua II DPRD Balangan, Saiful Arif meminta pengelola pasar tidak menutup mata terhadap pergeseran tren penjualan saat ini. Ia mendesak UPT Pasar untuk membuka ruang diskusi seluas-luasnya dengan berbagai pihak guna merumuskan jalan keluar yang paling pas.

"Pengelolaan Pasar Paringin ini harus lebih kreatif untuk menarik minat pengunjung di tengah perubahan arus pemasaran dan penjualan produk yang bergeser," tegas politisi Partai Demokrat ini.

Untuk memastikan langkah penanganan tidak sekadar wacana, Saiful menyatakan akan segera turun langsung ke lapangan guna meninjau kondisi riil Pasar Paringin dan mengevaluasi kinerja pengelola dalam waktu dekat.

Senada dengan pimpinan dewan, penekanan terhadap pentingnya adaptasi teknologi di kalangan pedagang tradisional juga disuarakan oleh komisi yang membidangi urusan ekonomi kerakyatan. Masalah ini tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan sekadar perbaikan fisik bangunan pasar.

Ketua Komisi II DPRD Balangan, Sri Huriyati menyoroti bahwa tren belanja digital atau online adalah akar masalah yang telah merombak kebiasaan masyarakat. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan pemerintah juga harus menyesuaikan dengan tuntutan zaman agar pedagang lokal tidak tergilas.

"Namun kita tidak boleh membiarkan pedagang tradisional yang belum memiliki kemampuan memasarkan produknya secara digital tertinggal begitu saja," ucap Sri.

Sebagai solusi konkret, ia mendorong agar UPT Pasar segera memfasilitasi program pelatihan pemasaran digital bagi para pedagang. Langkah ini dinilai mutlak diperlukan agar mereka mampu bersaing, bertahan, dan menjangkau pembeli di dunia maya.

Ke depannya, kolaborasi antara pemerintah daerah, keseriusan pengelola pasar, dan kemauan pedagang untuk melek teknologi akan menjadi kunci utama. Jika langkah penyelamatan dan adaptasi digital ini lambat dieksekusi, Pasar Paringin berpotensi besar hanya akan menjadi bangunan kosong yang ditinggalkan zaman.

 

Editor : M Oscar Fraby
dprd Pasar paringin