Musiman Hanya Sekali Setahun, Cerita Pedagang Bendera Merah Putih di Banjarmasin Mengais Rezeki

Zulvan Rahmatan • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 14:09 WIB
MUSIMAN: Rita salah satu pedagang bendera di Kawasan Taman Sari, Banjarmasin Tengah manfaatkan momen musiman menjelang Hari Kemerdekaan.
MUSIMAN: Rita salah satu pedagang bendera di Kawasan Taman Sari, Banjarmasin Tengah manfaatkan momen musiman menjelang Hari Kemerdekaan.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Setahun sekali, warna merah putih bukan hanya simbol kemerdekaan, tetapi juga sumber penghidupan. Di bawah terik matahari, para pedagang di Kawasan Taman Sari, Banjarmasin Tengah berjuang meraih rezeki dari momen yang singkat.

ZULVAN RAHMATAN, Banjarmasin

Terik matahari siang itu seolah membakar aspal jalan. Udara panas memantul dari permukaan trotoar, sementara deretan bendera Merah Putih berkibar pelan diterpa angin.

Di balik hamparan warna merah dan putih itu, Rita tak beranjak dari lapaknya.

Perempuan berusia 52 tahun tersebut tetap berdiri menyambut setiap orang yang melintas. Senyum ramah tak pernah lepas dari wajahnya, meski peluh terus mengalir membasahi dahi.

Saat dihampiri pada Senin (3/8/2026), ia spontan menawarkan bendera, umbul-umbul, hingga aneka pernak-pernik kemerdekaan.

"Silakan, Pak... dicari benderanya?" sapanya.

Ketika diberi tahu bahwa tujuan kedatangan bukan untuk membeli, melainkan berbincang, senyum Rita tak berubah. Baginya, menawarkan dagangan lebih dulu sudah menjadi kebiasaan yang tak pernah ditinggalkan.

"Selain memanfaatkan momen, kita juga perlu menjemput calon pembeli, meski responsnya pasti beragam," ujarnya.

Bulan Agustus selalu menjadi musim yang paling dinantikan Rita.

Musim merah putih, begitu ia menyebutnya.

Momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi masa panen bagi pedagang bendera. Permintaan melonjak drastis dari rumah tangga, sekolah, perkantoran, hingga lingkungan permukiman yang bersiap memasang atribut kemerdekaan.

Karena itu, sejak awal Juli, Rita sudah mulai mendatangkan stok sedikit demi sedikit.

Tak hanya dipajang di lapak, sebagian langsung laku dibawa pembeli yang tak ingin kehabisan.

"Kalau bendera memang dari awal Juli sudah mulai ramai dicari. Yang benar-benar musiman itu bendera. Kalau barang lain belum terlalu banyak yang cari," katanya.

Lapaknya mulai buka pukul 08.00 Wita.

Baru sekitar pukul 22.00 Wita ia pulang.

Hampir 14 jam sehari Rita menghabiskan waktu di bawah langit terbuka, menunggu pembeli datang silih berganti.

Di lapaknya tersedia berbagai ukuran dan jenis bendera, umbul-umbul, gapura mini, hingga hiasan kemerdekaan.

Harganya bervariasi, mulai Rp5 ribu hingga Rp200 ribu.

Ada pelanggan yang hanya membeli satu bendera untuk dipasang di depan rumah. Ada pula yang datang membawa daftar belanja panjang atas nama sekolah, kantor, hingga instansi pemerintah.

Pembelian dalam jumlah besar itulah yang paling dinanti.

"Alhamdulillah lumayan ramai. Apalagi kalau ada yang beli partaian," ucap Rita.

Agar semua kebutuhan pelanggan terpenuhi, modal yang dikeluarkannya pun tak sedikit.

Ratusan juta rupiah ia siapkan untuk menghadirkan berbagai ukuran, jenis, dan jumlah barang selama musim kemerdekaan.

Baginya, keberanian mengeluarkan modal besar adalah konsekuensi dari peluang yang hanya datang setahun sekali.

Namun, rezeki itu harus dibayar dengan ketahanan fisik.

Setiap hari Rita harus menghadapi sengatan matahari tanpa banyak tempat berteduh.

Hidungnya sering berair, kepala terasa panas, bahkan sesekali disertai pusing akibat terlalu lama berada di bawah terik.

Meski begitu, ia memilih bertahan.

Keluhan itu sudah menjadi bagian dari pekerjaannya selama bertahun-tahun.

Sebab ia tahu, musim merah putih tak berlangsung lama.

Hanya sekitar pertengahan Agustus, lalu perlahan keramaian kembali mereda.

Karena itulah, selama kesempatan masih ada, Rita memilih tetap berdiri di balik deretan bendera yang berkibar.

Bagi perempuan itu, panas matahari hanyalah ujian kecil dibanding kehilangan kesempatan mencari nafkah.

Setahun sekali, merah putih bukan sekadar lambang kemerdekaan. Di tangan Rita, warna itu juga menjadi harapan yang menghidupi keluarga.

Editor : Eddy Hardiyanto
Musiman bendera merah putih banjarmasin pedagang