RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Martapura – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banjar kini bergeser ke Kecamatan Sungai Tabuk dan Cintapuri Darussalam. Meski jumlah titik panas (hotspot) turun dari delapan menjadi dua dalam sehari, BPBD Kabupaten Banjar masih menangani tiga lokasi kebakaran, termasuk satu titik yang diusulkan mendapat dukungan pemadaman melalui water bombing.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar Wasis Nugraha mengatakan, hingga Minggu (2/8/2026) petang, tim gabungan masih berjibaku memadamkan api di Desa Keliling Benteng Ilir, Kecamatan Sungai Tabuk, Desa Simpang Lima, Kecamatan Cintapuri Darussalam, serta kawasan perbatasan Desa Tajau Landung dan Desa Keliling Benteng Ilir.
"Hotspot memang turun menjadi dua titik, tetapi penanganan di lapangan tetap kami lakukan karena masih ada beberapa kejadian karhutla yang memerlukan penanganan intensif," ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu malam.
BPBD Ajukan Water Bombing
Wasis menjelaskan, kebakaran di Desa Keliling Benteng Ilir berada di kawasan rawa yang jauh dari permukiman dan belum dapat dijangkau kendaraan roda empat. Hingga kini, petugas masih melakukan pemantauan sekaligus mendata luas lahan yang terbakar.
Sementara itu, kebakaran di Desa Simpang Lima menjadi perhatian karena lokasi titik api berada sekitar dua kilometer dari permukiman warga dan tidak memiliki akses darat yang memadai.
Kondisi tersebut mendorong BPBD Kabupaten Banjar berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Kalimantan Selatan untuk mengajukan dukungan Satgas Udara melalui operasi water bombing.
"Kami sudah mengajukan dukungan pemadaman dari udara karena akses menuju lokasi cukup sulit. Tim di lapangan tetap melakukan pemantauan sambil menunggu tindak lanjut," kata Wasis.
Selain itu, petugas juga memantau kebakaran di kawasan antara Desa Tajau Landung dan Desa Keliling Benteng Ilir. Titik api berada di bagian tengah lahan sehingga tidak dapat dijangkau kendaraan roda dua maupun roda empat.
"Hingga kini, luas lahan yang terbakar di tiga lokasi tersebut masih dalam proses pendataan," ujarnya.
Penanganan Terkendala Medan Gambut
Menurut Wasis, karakteristik lahan gambut, keterbatasan sumber air, dan sulitnya akses menuju lokasi masih menjadi tantangan utama dalam penanganan karhutla di Kabupaten Banjar.
Vegetasi yang terbakar didominasi semak belukar di atas lahan kering dan gambut, sehingga api berpotensi bertahan di bawah permukaan tanah meski kobaran di atas telah padam.
"Karakteristik lahan gambut, keterbatasan sumber air, dan akses menuju lokasi menjadi tantangan utama penanganan karhutla. Karena itu kami terus berkoordinasi dengan seluruh unsur, termasuk apabila diperlukan dukungan pemadaman dari udara," jelasnya.
Sehari Sebelumnya Tangani Tujuh Lokasi
Sebagai perbandingan, sehari sebelumnya BPBD Kabupaten Banjar menangani sedikitnya tujuh kejadian karhutla yang tersebar di Kecamatan Sungai Tabuk, Cintapuri Darussalam, Aranio, Martapura Barat, Martapura, hingga Gambut.
Di Desa Pembantanan, Kecamatan Sungai Tabuk, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai empat hektare. Sementara di Desa Karya Makmur, Kecamatan Cintapuri Darussalam sekitar lima hektare, dan di kawasan Tahura, Kecamatan Aranio sekitar tiga hektare.
Kebakaran juga sempat terjadi di Desa Sungai Rangas Hambuku, Kecamatan Martapura Barat. Karena lokasi berada di seberang Sungai Martapura dan sulit dijangkau melalui jalur darat, BPBD mengusulkan pemadaman melalui water bombing, namun saat itu masih menunggu ketersediaan helikopter.
Sementara itu, kebakaran di Desa Benua Anyar, Kecamatan Sungai Tabuk, dengan estimasi luas sekitar 10 hektare, telah mendapat penanganan melalui operasi water bombing.
Adapun kebakaran terbesar terjadi di Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura. Dari sekitar 15 hektare lahan yang terbakar, sekitar tujuh hektare berhasil dipadamkan. Petugas gabungan masih melanjutkan pemadaman karena titik api mengarah ke kebun karet milik warga.
Hotspot Menurun
Selain penanganan di lapangan, BPBD juga mencatat jumlah hotspot di Kabupaten Banjar menurun dari delapan titik pada Sabtu menjadi dua titik pada Minggu.
Dua titik panas tersebut masing-masing terpantau berada di Kecamatan Martapura Barat dan Cintapuri Darussalam.
Wasis mengimbau masyarakat tetap waspada selama musim kemarau serta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun kepulan asap agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
"Seluruh perkembangan terus kami pantau agar kebakaran tidak meluas dan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi," tegasnya. (*)
Editor : M. Ramli Arisno