Terdampak Kemarau Panjang, Ratusan Hektar Sawah di Kabupaten Banjar Terancam Puso

M Fadlan Zakiri • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 17:43 WIB
TERANCAM PUSO: Kondisi sawah yang mulai mengering dan tanah retak akibat minimnya pasokan air di Kabupaten Banjar, Kamis (30/7). (Foto: FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJAR)
TERANCAM PUSO: Kondisi sawah yang mulai mengering dan tanah retak akibat minimnya pasokan air di Kabupaten Banjar, Kamis (30/7). (Foto: FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJAR)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, MARTAPURA - Musim kemarau yang berkepanjangan mulai mengancam areal persawahan di Kabupaten Banjar. Pasokan air yang terus menyusut membuat 331 hektare sawah mengalami kekeringan.

Kondisi tersebut bahkan berpotensi mengalami puso atau gagal panen. Ahmad Kosasih, petani di Kampung Keramat, Kecamatan Martapura Timur mengaku, ia kesulitan mempertahankan tanaman padinya karena sumber air yang selama ini diandalkan semakin terbatas.

Sumur di belakang rumah yang biasa digunakan untuk menyiram sawah hanya mampu memasok air dalam waktu singkat. "Kalau mengambil air dari sumur di belakang rumah, paling satu jam sudah habis. Jadi sulit untuk menyiram tanaman terus-menerus," keluhnya.

Akibat kekurangan air, sebagian tanaman padinya mulai mengering dan terancam mati. Ia berharap pemerintah dapat membantu penyediaan sarana air, seperti sumur bor maupun pompa, agar petani tetap memiliki pasokan air selama musim kemarau.

"Harapan kami ada bantuan sumur bor atau pompa. Kalau kemarau seperti ini kami hanya bisa bertahan semampunya," tukasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Warsita mengungkap, luas lahan yang terdampak itu merupakan bagian dari sekitar 890 hektare sawah yang baru selesai ditanami pada musim tanam kali ini.

Lahan yang mengalami kekeringan tersebut, tersebar di Kecamatan Beruntung Baru seluas 160 hektare, Sungai Tabuk 91 hektare, Martapura Barat 30 hektare, Karang Intan 28 hektare, Martapura Kota 21 hektare, dan Astambul 1 hektare. "Kalau melihat kondisi sekarang, memang ada beberapa desa dan kecamatan yang mengalami kekeringan akibat kemarau panjang," ungkapnya, Kamis (30/7).

Warsita mengatakan, sejak awal musim kemarau pihaknya telah mengingatkan petani agar mewaspadai potensi kekeringan, dan segera melaporkan lahan yang mulai terdampak sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Sebagai langkah penyelamatan, pihaknya sudah menyiapkan pompa air untuk didistribusikan ke wilayah terdampak. Pengoperasiannya dilakukan oleh kelompok tani bersama Brigade Pangan. "Pompa yang tersedia di dinas akan kami distribusikan. Untuk operasionalnya dilakukan oleh petani atau Brigade Pangan," jelasnya.

Selain itu, sekitar 282 unit pompa yang telah dimiliki petani juga siap dimanfaatkan untuk menyuplai air ke lahan yang masih memungkinkan diselamatkan.

Sisi lain, Warsita mengatakan, dari hasil pemantauan di sejumlah wilayah, seperti Cintapuri dan Martapura Barat, menunjukkan tanaman padi masih berpeluang diselamatkan karena sebagian saluran irigasi masih menyisakan air.

"Kalau tidak turun hujan memang berpotensi puso atau gagal panen. Namun, masih ada sumber air di beberapa saluran sehingga kami mendorong agar segera dilakukan pemompaan supaya tanaman bisa diselamatkan," cetusnya.

Selain melakukan penanganan darurat, Dinas Pertanian juga menyiapkan perlindungan bagi petani melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Tahun ini, Kabupaten Banjar mendapat target perlindungan seluas 1.500 hektare melalui kolaborasi pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten Banjar.

Petani yang lahannya telah terdaftar melalui kelompok tani dan dipastikan mengalami puso setelah proses verifikasi dapat mengajukan klaim asuransi. "Besaran klaim disesuaikan dengan tingkat kerusakan. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, nilainya berkisar antara Rp2 juta hingga Rp4 juta per hektarenya," papar Warsita.

Meski demikian, pihaknya tetap mengedepankan upaya penyelamatan tanaman melalui percepatan distribusi pompa air. Hal ini agar sawah yang masih memiliki akses terhadap sumber air dapat dipertahankan hingga memasuki masa panen. "Tentu saja jangan sampai terjadi puso. Tetapi kalau terjadi, asuransi bisa menjadi modal untuk musim tanam berikutnya," pungkasnya. (zkr/mof)

Editor : Arief
sawah pertanian kemarau kabupaten banjar