RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BARABAI – Persoalan yang dihadapi jemaah umrah pengguna jasa Syakira Tour belum berakhir. Setelah sempat mengalami penundaan keberangkatan berulang kali, kini sebanyak 38 jemaah dilaporkan masih terlantar di Jeddah, Arab Saudi, karena belum memperoleh tiket kepulangan ke Indonesia.
Perwakilan jemaah, Muhammad Rifani, mengatakan rombongan tersebut merupakan kloter terakhir yang akhirnya diberangkatkan setelah beberapa kali mengalami penundaan sejak akhir Juni 2026.
Awalnya, keberangkatan dijadwalkan pada 21 Juni. Namun sekitar sepekan sebelumnya, jadwal diundur menjadi 27 Juni dengan alasan overbooking tiket.
Penundaan kembali terjadi pada 2 Juli dan 8 Juli dengan alasan visa belum terbit akibat adanya regulasi baru. Selanjutnya, pada 10 Juli para jemaah diberangkatkan ke Jakarta untuk persiapan keberangkatan. Namun, mereka kembali harus menunggu karena tiket menuju Arab Saudi belum tersedia.
"Visa sebenarnya sudah keluar pada 11 Juli, tetapi tiket berangkat belum ada. Kami akhirnya sekitar tujuh hingga delapan hari tertahan di Jakarta tanpa kepastian," ujar Rifani kepada Radar Banjarmasin, Jumat (31/7/2026).
Rombongan akhirnya baru diberangkatkan ke Tanah Suci pada 18 Juli. Mereka menjalani ibadah di Makkah selama sekitar lima hari, kemudian melanjutkan perjalanan ke Madinah selama empat hari.
Masalah kembali muncul saat jadwal kepulangan. Seluruh rombongan dipindahkan ke Jeddah untuk menunggu penerbangan pulang, tetapi hingga Jumat (31/7) tiket kepulangan belum juga tersedia.
"Sejak Senin 27 Juli kami sudah berada di Jeddah. Sampai hari ini sudah empat hari kami terlantar tanpa biaya dari pihak travel," katanya.
Rifani menjelaskan, rombongan yang tertahan terdiri dari 28 jemaah asal Barabai yang mengambil paket umrah 12 hari dan 10 jemaah asal Tanjung dengan paket 16 hari.
Karena kendala visa, kedua rombongan digabung menjadi satu paket perjalanan selama 12 hari. Sementara jemaah yang semula mengambil paket 16 hari dijanjikan mendapat pengembalian dana atas pengurangan masa perjalanan.
Ia mengaku komunikasi dengan pihak travel kini semakin sulit. Bahkan, berdasarkan informasi dari agen yang ikut mendampingi rombongan, pihak travel disebut sudah tidak memiliki dana untuk menukarkan tiket kepulangan.
"Kalau kami menghubungi pihak travel sudah tidak ada balasan lagi," ujarnya.
Kondisi itu membuat para jemaah semakin khawatir. Selain biaya hidup yang hampir habis, mereka juga terancam kehilangan tempat menginap karena pembayaran hotel belum dilakukan.
"Kami berpotensi diusir dari penginapan karena uang jemaah sudah hampir habis. Biaya swadaya juga sangat terbatas," katanya.
Para jemaah telah meminta bantuan kepada Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi serta KJRI agar dapat difasilitasi untuk segera dipulangkan ke Indonesia.
Namun, hingga kini bantuan yang diterima baru berupa surat pemanggilan kepada pihak travel dan desakan agar segera memulangkan para jemaah.
"Bantuan yang diberikan baru berupa surat pemanggilan kepada pihak travel dan desakan agar segera memulangkan jemaah. Untuk kebutuhan mendesak seperti makan dan penginapan, kami belum mendapat bantuan," ungkap Rifani.
Para jemaah berharap segera mendapat kepastian tiket kepulangan, sekaligus bantuan biaya makan dan penginapan selama masih berada di Jeddah.
Hingga berita ini ditulis, pihak Syakira Tour belum memberikan tanggapan terkait laporan puluhan jemaah yang masih tertahan di Jeddah.
Editor : Eddy Hardiyanto