331 Hektare Sawah di Kabupaten Banjar Mengering, Terancam Gagal Panen

M Fadlan Zakiri • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 03:14 WIB

 

MENGERING: Kondisi sawah yang mulai mengering dan tanah retak akibat minimnya pasokan air di Kabupaten Banjar, Kamis (30/7). Ratusan hektare lahan pertanian terancam gagal panen jika kemarau berkepanjangan. (Fadlan Zakiri/Radar Banjar)
MENGERING: Kondisi sawah yang mulai mengering dan tanah retak akibat minimnya pasokan air di Kabupaten Banjar, Kamis (30/7). Ratusan hektare lahan pertanian terancam gagal panen jika kemarau berkepanjangan. (Fadlan Zakiri/Radar Banjar)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Martapura – Musim kemarau yang berkepanjangan mulai mengancam sektor pertanian di Kabupaten Banjar. Sebanyak 331 hektare sawah dilaporkan mengalami kekeringan dan berpotensi mengalami puso atau gagal panen apabila hujan tak kunjung turun.

 

Lahan terdampak merupakan bagian dari sekitar 890 hektare sawah yang baru memasuki musim tanam. Pemerintah pun bergerak menyiapkan pompa air dan perlindungan melalui asuransi usaha tani guna menekan risiko kerugian petani.

Petani Mulai Kesulitan Air

Kondisi itu dirasakan Ahmad Kosasih, petani di Kampung Keramat, Kecamatan Martapura Timur. Ia mengaku kesulitan mempertahankan tanaman padinya karena sumber air yang selama ini menjadi andalan terus menyusut.

Sumur di belakang rumah yang biasa digunakan untuk menyiram sawah hanya mampu memasok air dalam waktu singkat.

"Kalau mengambil air dari sumur di belakang rumah, paling satu jam sudah habis. Jadi sulit untuk menyiram tanaman terus-menerus," katanya.

Akibat minimnya pasokan air, sebagian tanaman padi mulai mengering dan terancam mati. Ahmad berharap pemerintah dapat membantu penyediaan sarana air, seperti sumur bor maupun pompa, agar petani tetap memiliki pasokan air selama musim kemarau.

"Harapan kami ada bantuan sumur bor atau pompa. Kalau kemarau seperti ini kami hanya bisa bertahan semampunya," harapnya.

Enam Kecamatan Terdampak

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Warsita, mengatakan lahan yang terdampak kekeringan tersebar di enam kecamatan.

Rinciannya, Kecamatan Beruntung Baru seluas 160 hektare, Sungai Tabuk 91 hektare, Martapura Barat 30 hektare, Karang Intan 28 hektare, Martapura Kota 21 hektare, dan Astambul 1 hektare.

"Kalau melihat kondisi sekarang, memang ada beberapa desa dan kecamatan yang mengalami kekeringan akibat kemarau panjang," ungkapnya, Kamis (30/7).

Menurut Warsita, sejak awal musim kemarau pihaknya telah mengingatkan petani agar mewaspadai potensi kekeringan dan segera melaporkan lahan yang mulai terdampak agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Pompa Air Disiagakan

Sebagai langkah penyelamatan, Dinas Pertanian menyiapkan pompa air untuk didistribusikan ke wilayah terdampak. Pengoperasiannya akan dilakukan oleh kelompok tani bersama Brigade Pangan.

"Pompa yang tersedia di dinas akan kami distribusikan. Untuk operasionalnya dilakukan oleh petani atau Brigade Pangan," jelasnya.

Selain itu, sekitar 282 unit pompa yang telah dimiliki petani juga siap dimanfaatkan untuk menyuplai air ke lahan yang masih memungkinkan diselamatkan.

Hasil pemantauan di sejumlah wilayah, seperti Cintapuri dan Martapura Barat, menunjukkan sebagian tanaman padi masih berpeluang diselamatkan karena saluran irigasi masih menyisakan air.

"Kalau tidak turun hujan memang berpotensi puso atau gagal panen. Namun masih ada sumber air di beberapa saluran sehingga kami mendorong agar segera dilakukan pemompaan supaya tanaman bisa diselamatkan," ujarnya.

Asuransi Jadi Jaring Pengaman

Selain melakukan penanganan darurat, Dinas Pertanian juga menyiapkan perlindungan melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Tahun ini Kabupaten Banjar mendapat target perlindungan seluas 1.500 hektare melalui kolaborasi pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten Banjar.

Petani yang lahannya telah terdaftar melalui kelompok tani dan dinyatakan mengalami puso setelah proses verifikasi dapat mengajukan klaim asuransi.

"Besaran klaim disesuaikan dengan tingkat kerusakan. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, nilainya berkisar antara Rp2 juta hingga Rp4 juta per hektare," kata Warsita.

Meski demikian, pemerintah tetap mengedepankan upaya penyelamatan tanaman melalui percepatan distribusi pompa air agar sawah yang masih memiliki akses terhadap sumber air dapat bertahan hingga masa panen.

"Harapannya tentu jangan sampai terjadi puso. Tetapi kalau terjadi, asuransi bisa menjadi modal untuk musim tanam berikutnya," pungkasnya. (*)

 

Editor : M. Ramli Arisno
kemarau Kabupaten Banjar kekeringan sawah Banjar puso tanaman padi Dinas Pertanian Banjar asuransi usaha tani padi