Situasi Karhutla Terkendali, BPBD Balangan Belum Butuhkan Bantuan Helikopter Water Bombing

M Dirga • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 09:46 WIB
PENGENDALIAN TITIK API: Petugas pemadam kebakaran saat menyemprotkan air untuk mendinginkan lahan yang hangus terbakar di tepi jalan kawasan Kecamatan Paringin Selatan.
PENGENDALIAN TITIK API: Petugas pemadam kebakaran saat menyemprotkan air untuk mendinginkan lahan yang hangus terbakar di tepi jalan kawasan Kecamatan Paringin Selatan.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Balangan hingga pertengahan 2026 menunjukkan tren positif. Berdasarkan analisis citra satelit Sipongi Kementerian Kehutanan, luas lahan yang terbakar hingga akhir Juni hanya mencapai 11,81 hektare.

Angka tersebut turun drastis dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, total luas karhutla di Balangan tercatat mencapai 210,60 hektare.

Data historis juga menunjukkan tren yang fluktuatif. Pada 2018 dan 2019, luas lahan terbakar masing-masing mencapai sekitar 610 hektare dan 894 hektare. Kondisi sempat membaik pada 2020 dengan nihil karhutla, kemudian hanya belasan hingga puluhan hektare pada 2021 dan 2022.

Namun, pada 2023 luas karhutla kembali melonjak hingga lebih dari 1.040 hektare sebelum turun menjadi sekitar 200 hektare pada 2024 dan 2025. Memasuki paruh pertama 2026, angkanya kembali menyusut signifikan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Balangan, Jumaidil Hairi, mengatakan kondisi tersebut membuat pemerintah daerah belum menetapkan status siaga darurat karhutla.

"Sementara status Balangan masih belum ditetapkan siaga darurat sambil melihat perkembangan kondisi. Karena situasi sejauh ini masih relatif terkendali, kami juga belum mengajukan bantuan water bombing," ujarnya, Selasa (28/7).

Meski demikian, BPBD tetap meningkatkan kewaspadaan. Sebaran titik api mulai bermunculan, dengan Kecamatan Batumandi dan Lampihong menjadi wilayah yang paling banyak terdeteksi.

"Kecamatan penyumbang titik api terbanyak saat ini memang berada di Batumandi dan Lampihong. Untuk kesiapsiagaan, posko di kantor induk tetap kami aktifkan selama 24 jam setiap hari," katanya.

Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, BPBD terus memperkuat koordinasi dengan Manggala Agni Daerah Operasi VI Tanah Laut melalui pondok kerja di Batumandi, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Balangan, TNI, Polri, serta para relawan.

Menurut Jumaidil, sinergi lintas sektor menjadi kunci dalam penanganan karhutla, terutama karena petugas masih menghadapi kendala minimnya sumber air dan keterbatasan sarana pendukung saat proses pemadaman.

Memasuki puncak musim kemarau, pengawasan di wilayah rawan kebakaran dipastikan semakin diperketat. Pemerintah berharap langkah mitigasi dan kolaborasi seluruh pihak mampu mempertahankan tren penurunan karhutla di Balangan hingga akhir 2026.

Editor : Eddy Hardiyanto
karhutla BPBD Balangan water bombing