RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BARABAI – Kekecewaan mendalam dirasakan peternak ayam pedaging di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) setelah lebih dari 5.000 ekor ayam mati diduga akibat pemadaman listrik yang berlangsung lebih dari lima jam, Jumat (24/7/2026). Hingga kini, peternak mengaku belum menerima kepastian terkait tindak lanjut dari PT PLN (Persero).
Peristiwa itu terjadi di kandang close house milik Saipul Hadi di Desa Aluan Sumur RT 05. Ayam yang mati berusia 29 hari dan hanya tinggal dua hari lagi memasuki masa panen. Kerugian ditaksir mencapai Rp250 juta.
Marlin, penjaga kandang, mengatakan listrik padam sekitar pukul 12.00 Wita saat para pekerja melaksanakan Salat Jumat. Aliran listrik baru kembali menyala sekitar pukul 17.30 Wita, lebih lama dari jadwal yang diinformasikan.
"Padahal tinggal dua hari lagi panen. Kami sangat sedih dan kecewa sekali," ujarnya, Selasa (28/7/2026).
Selama pemadaman, genset cadangan tidak mampu menyuplai seluruh kebutuhan listrik kandang. Akibatnya, tiga kipas blower berhenti beroperasi setelah tali pulinya hangus.
"Kami tidak sanggup menahan beban genset selama lebih dari lima jam. Blower akhirnya mati," katanya.
Berhentinya blower membuat sirkulasi udara di dalam kandang tertutup terputus. Ditambah cuaca panas musim kemarau, suhu kandang meningkat drastis hingga ribuan ayam diduga mati akibat kekurangan oksigen.
Pekerja sempat membuka dinding kandang sebagai ventilasi darurat. Namun upaya tersebut tidak mampu menyelamatkan ternak. Ayam mulai mati sekitar pukul 15.00 Wita.
Dari sekitar 8.000 ekor ayam yang dipelihara, sebanyak 5.000 ekor dilaporkan mati. Bangkai ayam kemudian dikuburkan di sekitar lokasi hingga menjelang subuh karena jumlahnya sangat banyak.
Marlin mengatakan petugas PLN telah datang ke lokasi untuk melakukan pengecekan dan pendataan. Namun hingga kini belum ada kejelasan mengenai langkah lanjutan.
"Pihak PLN memang datang mengecek dan mendata. Tapi sampai sekarang belum ada kepastian tindak lanjut," ungkapnya.
Kekecewaan juga disampaikan salah seorang pekerja kandang, Idi. Ia berharap pemadaman listrik serupa tidak kembali terjadi karena usaha peternakan sangat bergantung pada pasokan listrik.
"Jangan sering mati lampu lagi. Kami sangat bergantung pada listrik. Harusnya lebih diperhatikan agar pengusaha tidak dirugikan," katanya.
Terpisah, Manager Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Barabai Kota, Syarwani, mengatakan pihaknya telah memonitor kejadian tersebut dan akan bertemu langsung dengan pemilik kandang untuk melakukan pendalaman.
"Kami telah berkomunikasi melalui WhatsApp. Setelah pemilik usaha kembali ke Barabai, kami akan bertemu untuk membahas permasalahan ini," ujarnya.
Assistant Manager Keuangan dan Umum PLN UP3 Barabai, Kurnia Dany Hargyana, menambahkan pihaknya masih mengumpulkan informasi sebelum menentukan langkah penanganan.
"Kami ingin memperoleh informasi secara lengkap sehingga penanganannya dapat dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku," katanya.
Ia menjelaskan, apabila nantinya terdapat kompensasi, mekanismenya mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 27 Tahun 2017 yang telah diubah terakhir melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2025. Bentuk kompensasi berupa pengurangan tagihan listrik bagi pelanggan pascabayar atau penambahan token bagi pelanggan prabayar apabila PLN tidak memenuhi Tingkat Mutu Pelayanan (TMP).
Namun, kompensasi tersebut tidak secara otomatis mencakup penggantian kerugian usaha, seperti kematian ternak atau kerusakan aset pelanggan. Setiap kasus tetap memerlukan kajian dan penanganan tersendiri.
Editor : Eddy Hardiyanto