Komunitas Padaringan di Kotabaru Pamerkan 60 Pusaka, Kenalkan Warisan Leluhur kepada Generasi Muda

Jumain Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 14:14 WIB
MELESTARIKAN: Beragam koleksi Padaringan Pecinta Pusaka Saijaan. (Foto: Jumain/ Radar Banjarmasin) 
MELESTARIKAN: Beragam koleksi Padaringan Pecinta Pusaka Saijaan. (Foto: Jumain/ Radar Banjarmasin) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru - Kepedulian terhadap pelestarian benda-benda bersejarah peninggalan leluhur terus ditunjukkan masyarakat Bumi Saijaan.

Salah satunya melalui pameran yang digelar Komunitas Padaringan Pecinta Pusaka Saijaan dalam rangkaian Festival Budaya Saijaan di kawasan Siring Laut, Kotabaru, Minggu (26/7).

Sebanyak 60 bilah pusaka dari berbagai suku dan daerah di Nusantara dipamerkan kepada masyarakat. Kegiatan yang baru pertama kali digelar tersebut menjadi sarana edukasi sekaligus mempererat silaturahmi tanpa memandang perbedaan suku, ras, maupun agama.

Ketua Komunitas Padaringan Pecinta Pusaka Saijaan, Hendra Darmawan, mengatakan komunitas itu lahir dari keprihatinan terhadap minimnya pengetahuan generasi muda di Kotabaru mengenai benda pusaka dan budaya perkerisan.

"Awalnya hanya tempat berkumpul sesama pecinta pusaka. Lama-kelamaan anggotanya terus bertambah hingga terbentuk menjadi komunitas seperti sekarang," ujarnya.

Hendra menjelaskan, nama 'Padaringan' diambil dari wadah tradisional untuk menyimpan beras. Secara filosofis, nama tersebut dimaknai sebagai tempat yang menjaga, merawat, dan melestarikan warisan leluhur agar nilai sejarah dan budayanya tetap terpelihara bagi generasi mendatang.

Beragam koleksi pusaka dipamerkan dalam kegiatan tersebut. Mulai dari pusaka khas Banjar seperti Belitung dan Sampana Kijang, pisau tradisional, senjata Sadup khas Dayak, Parang Sinangke dari Sulawesi Selatan, Keris Luk 9 dari Jawa, hingga Rencong dari Aceh.

Selain itu, terdapat pula sejumlah koleksi pusaka tua peninggalan pedatuan yang diperkirakan telah diwariskan lintas generasi.

"Kalau dinilai dengan uang, pusaka ini tidak ternilai. Nilai sejarahnya jauh lebih berharga. Tujuan kami murni karena kecintaan dan hobi untuk melestarikan budaya," tegasnya.

Ia menambahkan, komunitas Padaringan juga berkomitmen menjaga agar benda pusaka tidak disalahgunakan untuk tindakan yang melanggar hukum maupun tindak kejahatan.

"Tujuan kami mendirikan komunitas ini adalah untuk menjalin silaturahmi dan melestarikan budaya. Pusaka tidak digunakan untuk hal-hal yang melanggar hukum ataupun kejahatan," katanya.

Komunitas Padaringan yang telah berdiri sekitar delapan bulan itu rutin menggelar pertemuan anggota setiap tiga bulan sekali. Selain itu, mereka juga melaksanakan tradisi Bapalas Pasih atau ritual keselamatan pusaka setiap memasuki 1 Muharam.

Hendra mengajak masyarakat maupun pecinta pusaka yang ingin bersilaturahmi untuk datang ke sekretariat Komunitas Padaringan yang berlokasi di Jalan Gunung Olin, Lok Tambun, Desa Sungai Taib, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru.

Editor : Sutrisno
Kotabaru bersejarah