Terdampak Musim Kemarau Panjang, Ratusan Hektar Sawah di Kabupaten Banjar Berpotensi Puso

M Fadlan Zakiri • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 14:05 WIB
Ilustrasi padi
Ilustrasi padi

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, MARTAPURA – Musim kemarau yang datang lebih cepat dan berlangsung lebih panjang mulai mengancam lahan pertanian di Kabupaten Banjar. Hingga pertengahan Juli 2026, Dinas Pertanian Kabupaten Banjar mencatat sedikitnya 214,5 hektare sawah telah terdampak kekeringan dan berisiko mengalami puso apabila kondisi cuaca tidak segera membaik.

Berdasarkan data pemantauan per 17 Juli 2026, lahan terdampak paling luas berada di Kecamatan Beruntung Baru mencapai 160 hektare. Disusul Martapura Barat seluas 30 hektare, Martapura 21 hektare, serta Sungai Tabuk 3,5 hektare. Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan lahan yang mengalami puso atau gagal panen.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Nurul Chatimah mengungkap, kondisi tersebut merupakan dampak dari kemarau panjang yang sebelumnya telah diperingatkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Menurutnya, sebagian petani masih menanam varietas padi lokal yang memiliki umur panen lebih panjang karena menyesuaikan kebutuhan konsumsi keluarga. Akibatnya, tanaman yang ditanam menjelang musim kemarau kini menghadapi risiko kekurangan air.

“Yang rentan terdampak saat ini adalah petani yang menanam padi lokal. Umur tanamnya lebih panjang sehingga ketika kemarau datang lebih cepat, tanaman belum sempat dipanen,” ujarnya.

Nurul menjelaskan sebagian besar petani memperkirakan kondisi tahun ini akan menyerupai 2025 yang masih mengalami kemarau basah. Namun, kenyataannya curah hujan mulai menurun sejak Mei sehingga banyak lahan tidak memiliki cadangan air yang cukup.

“Petani memprediksi pola cuaca masih sama seperti tahun sebelumnya. Ternyata begitu masuk Mei hujan hampir tidak turun, sehingga beberapa lokasi tidak siap menghadapi kemarau yang lebih panjang,” katanya.

Lahan yang terdampak saat ini umumnya merupakan sawah yang ditanam pada April hingga Juni. Pada fase tersebut tanaman sedang memasuki masa generatif atau pengisian bulir yang tetap membutuhkan pasokan air meski tidak sebanyak saat masa pertumbuhan awal.

Gegara ini, pihaknya lebih mengkhawatirkan penurunan produktivitas dibanding gagal panen total. “Yang kami khawatirkan bukan langsung gagal panen, tetapi produksi menurun karena pengisian bulir tidak maksimal akibat kekurangan air,” imbuhnya.

Ia menambahkan angka lahan terdampak masih berpotensi bertambah dalam beberapa pekan ke depan. Pasalnya, sejumlah kecamatan lain mulai melaporkan kondisi sawah yang mengering dan tanah yang mulai retak akibat minimnya curah hujan.

“Beberapa wilayah sudah mulai menunjukkan gejala kekeringan. Laporan terus kami pantau setiap hari bersama petugas pengendali organisme pengganggu tanaman,” ungkapnya.

Pihaknya terus mengimbau kepada petani agar menyesuaikan pola tanam dengan informasi prakiraan musim, guna mengurangi risiko kerugian akibat perubahan cuaca ekstrem yang diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa bulan ke depan

Sisi lain, untuk mengurangi dampak kekeringan, Dinas Pertanian terus mengoptimalkan pemanfaatan pompa air yang telah disalurkan kepada kelompok tani. Hingga kini terdapat 219 unit pompa bantuan pemerintah yang tersebar di berbagai wilayah. Selain itu, pemerintah daerah juga mengusulkan tambahan 225 unit pompa kepada Kementerian Pertanian.

“Kalau ada kelompok yang masih aman dan memiliki pompa, kami berharap bisa saling membantu dengan meminjamkannya kepada kelompok yang sedang kesulitan air,” pesannya.

Salah satu petani yang merasakan dampak kemarau, Imran. Petani padi lokal asal Kecamatan Gambut itu mengaku beruntung karena sebagian besar lahannya sudah dipanen sebelum kemarau semakin panjang.

Meski demikian, kekurangan air tetap memengaruhi kualitas gabah yang dihasilkan. “Panen sempat selesai sebelum kemarau parah. Tapi kualitas padi memang menurun karena air mulai berkurang saat pengisian bulir,” katanya.

Menurutnya, bulir padi lokal yang dipanen tahun ini tidak sebaik musim sebelumnya. Sebagian gabah kurang berisi sehingga berpotensi memengaruhi hasil produksi. Ia berharap hujan segera turun agar petani yang masih memiliki tanaman di sawah tidak mengalami kerugian lebih besar. “Yang tanam belakangan sekarang mulai khawatir. Kalau kemarau terus berlanjut, hasil panen bisa turun,” katanya. (zkr/mof)

Editor : Arief
sawah kemarau kabupaten banjar