Kekeringan Mengancam Banua, 3 Kabupaten di Kalsel Berstatus Siaga

M Fadlan Zakiri • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 09:05 WIB
DAMPAK KEKERINGAN: Warga menampung air bersih yang disalurkan menggunakan mobil tangki di Desa Bawahan Selan, Kecamatan Mataraman yang terdampak kekeringan di Kabupaten Banjar, Minggu (19/7). (BPBD BANJAR)
DAMPAK KEKERINGAN: Warga menampung air bersih yang disalurkan menggunakan mobil tangki di Desa Bawahan Selan, Kecamatan Mataraman yang terdampak kekeringan di Kabupaten Banjar, Minggu (19/7). (BPBD BANJAR)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan menetapkan Kabupaten Banjar, Barito Kuala dan Tanah Laut masuk kategori Siaga Kekeringan Meteorologis pada Dasarian III Juli 2026 atau periode 21–31 Juli 2026.

Sementara itu, lima daerah lainnya masuk kategori Waspada, yakni Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Tapin, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dan Kabupaten Kotabaru.

Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan mengimbau masyarakat di daerah yang masuk kedua kategori tersebut, agar mulai mengantisipasi dampak kekeringan. Terutama terhadap ketersediaan air bersih dan meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Masyarakat di wilayah tersebut diimbau untuk menggunakan air secara bijak, mewaspadai potensi berkurangnya ketersediaan air, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," tulis Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan dalam informasi peringatan dini yang dirilis untuk Dasarian III Juli 2026.

BMKG juga menyampaikan, bahwa berdasarkan analisis kondisi iklim terkini, tidak terdapat wilayah di Kalimantan Selatan yang berpotensi mengalami curah hujan tinggi selama periode 21–31 Juli 2026.

Kondisi tersebut mengindikasikan belum ada peluang hujan signifikan yang dapat mengurangi potensi kekeringan di sejumlah wilayah. Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau melakukan langkah antisipasi sejak dini agar dampak kekeringan tidak semakin meluas.

BMKG menegaskan kondisi atmosfer bersifat dinamis sehingga perkembangan cuaca dan iklim dapat berubah sewaktu-waktu. "Tetap pantau informasi cuaca dan iklim terbaru dari BMKG karena kondisi atmosfer dapat berubah secara dinamis," imbau Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan.

Rendahnya curah hujan menjadi salah satu faktor yang mendorong munculnya peringatan dini kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan. Data BMKG menunjukkan 100 persen wilayah Kalimantan Selatan hanya menerima curah hujan berkisar 0 hingga 50 milimeter selama periode Juli.

Sebagian besar wilayah bahkan berada pada rentang 0 hingga 20 milimeter, menandakan pasokan hujan masih minim di tengah musim kemarau. Tak hanya itu, analisis sifat hujan juga memperlihatkan kondisi yang seragam. Seluruh wilayah Kalimantan Selatan berada pada kategori Bawah Normal (BN) atau 100 persen wilayah.

Adapun hujan sangat rendah, yakni hanya 0 hingga 10 milimeter, masih berpeluang terjadi di sebagian kecil Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Hulu Sungai Utara dengan peluang mencapai 50 hingga 60 persen.

Sementara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar mencatat Kecamatan Beruntung Baru, Sambung Makmur, serta sejumlah desa di Martapura Barat dan Sungai Tabuk, menjadi wilayah yang paling terdampak kekeringan hingga pertengahan Juli.

Kepala BPBD Kabupaten Banjar Wasis Nugraha mengatakan, pihaknya telah menyiapkan berbagai langkah penanganan menyusul meningkatnya potensi kekeringan selama musim kemarau tahun ini.

"Wilayah yang paling terdampak saat ini berada di Beruntung Baru, Sambung Makmur, serta beberapa desa di Martapura Barat dan Sungai Tabuk," ungkapnya, Selasa (21/7).

Pemerintah Kabupaten Banjar sendiri telah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla dan Kekeringan sejak 15 Juli hingga 30 September 2026. Seiring penetapan tersebut, BPBD mengaktifkan Posko Siaga Penanganan Karhutla dan Kekeringan yang terdiri atas satu posko induk di kantor BPBD dan dua posko lapangan di Kecamatan Martapura Barat serta Beruntung Baru.

Selain mengoperasikan posko siaga, BPBD juga terus menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan sumber air. Hingga Selasa (21/7) kemarin, total 529.550 liter air bersih telah didistribusikan ke 22 desa yang tersebar di sembilan kecamatan.

Menurut Wasis, kemarau yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir menyebabkan sebagian sumur warga mengering. Di sejumlah lokasi, air sungai yang biasa dimanfaatkan masyarakat juga tidak lagi dapat digunakan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

BPBD turut meminjamkan 77 unit tandon air yang ditempatkan di titik-titik terdampak sebagai sarana penampungan bantuan air bersih. "Kami mengimbau masyarakat menggunakan air secara efisien dan bersama-sama menjaga ketersediaan air bersih selama musim kemarau," pesannya. (zkr/mof)

Editor : Arief
kalimantan selatan kemarau kekeringan bmkg