RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Selatan mengenai potensi munculnya kembali kabut asap mulai terbukti.
Sejak Selasa (21/7/2026) dini hari hingga pagi, kabut asap menyelimuti sejumlah kawasan di Kota Banjarbaru, terutama Kecamatan Landasan Ulin hingga Liang Anggang.
Fenomena tersebut juga diikuti penurunan kualitas udara. Data pemantauan BMKG menunjukkan konsentrasi partikulat halus atau particulate matter (PM2.5) mencapai 46,1 mikrogram per meter kubik pada pukul 09.00 Wita.
Pantauan Radar Banjarmasin di lapangan menunjukkan kabut asap mulai terlihat sejak dini hari dan semakin pekat pada pukul 07.00 hingga 08.00 Wita.
Lapisan asap tampak menutup sejumlah ruas jalan utama, seperti Jalan Ahmad Yani, kawasan sekitar Bandara Internasional Syamsudin Noor, hingga wilayah Liang Anggang.
Jarak pandang pengendara pun terlihat menurun. Sinar matahari pagi tampak berwarna jingga kemerahan akibat tertutup lapisan asap.
Meski kondisi udara memburuk, aktivitas masyarakat masih berjalan normal. Arus kendaraan menuju Banjarbaru maupun Banjarmasin tetap terpantau lancar.
PM2.5 Naik Saat Jam Sibuk Pagi
Berdasarkan catatan BMKG, peningkatan konsentrasi PM2.5 terjadi sejak pagi hari.
Pada pukul 06.00 Wita, konsentrasi PM2.5 tercatat 34,5 mikrogram per meter kubik. Angka itu kemudian berada di level 28,7 mikrogram per meter kubik pada pukul 07.00 Wita.
Memasuki jam sibuk pagi, konsentrasi kembali meningkat menjadi 45,9 mikrogram per meter kubik pada pukul 08.00 Wita dan mencapai puncaknya 46,1 mikrogram per meter kubik satu jam kemudian.
Kondisi udara kemudian berangsur membaik. Pada pukul 10.00 Wita, konsentrasi PM2.5 turun menjadi 15,3 mikrogram per meter kubik.
Sebelumnya, kualitas udara Banjarbaru sempat mengalami kondisi ekstrem pada Senin (20/7/2026). Data BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 mencapai sekitar 495 mikrogram per meter kubik pada pukul 08.00 Wita atau masuk kategori berbahaya.
Namun, kondisi tersebut hanya berlangsung sementara sebelum kembali mengalami penurunan.
Warga Mulai Batasi Aktivitas di Luar Ruangan
Munculnya kembali kabut asap membuat sebagian warga mulai khawatir, terutama jika kondisi tersebut berlangsung lama seperti kejadian karhutla pada tahun-tahun sebelumnya.
Hayati, warga Kecamatan Landasan Ulin, mengatakan kabut asap sudah terlihat saat dirinya berolahraga pagi di kawasan Liang Anggang sekitar pukul 06.00 Wita.
Menurutnya, kondisi udara terasa berbeda karena jarak pandang lebih pendek dan aroma asap masih sesekali tercium.
“Pas jogging tadi memang kelihatan berkabut. Matahari sudah terbit, tapi suasananya masih seperti tertutup asap. Mudah-mudahan tidak semakin parah seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.
Ia mengaku mulai mengurangi durasi olahraga di luar ruangan ketika asap terlihat semakin pekat.
Kekhawatiran serupa disampaikan Sukma, warga Landasan Ulin, yang pagi itu mengantar anaknya ke sekolah.
Ia mengaku waswas karena anak-anak dinilai lebih rentan terhadap dampak udara buruk.
“Kalau kabut asap seperti ini terus, tentu kami sebagai orang tua jadi waswas. Semoga titik apinya cepat dipadamkan supaya udara kembali bersih,” katanya.
Meski demikian, ia menilai kondisi Selasa pagi belum separah kabut asap sehari sebelumnya.
BMKG: Karhutla Jadi Pemicu
Forecaster Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, M. Agvi, menjelaskan kemunculan kabut asap diduga berkaitan dengan aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar wilayah Banjarbaru.
Berdasarkan laporan yang diterima BMKG, terdapat kebakaran lahan di Desa Keladan Baru, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar.
Selain itu, hasil pemantauan satelit juga masih mendeteksi titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang di Kecamatan Cintapuri Darussalam.
Namun, BMKG belum dapat memastikan sumber utama asap yang menyelimuti Banjarbaru berasal dari satu lokasi tertentu.
Menurut Agvi, diperlukan analisis lebih lanjut dengan menggabungkan data titik panas, citra satelit, arah angin, serta kondisi atmosfer.
“Untuk memastikan sumber dan jalur pergerakan asap secara spesifik diperlukan analisis lebih lanjut menggunakan data titik panas, citra satelit, arah angin, dan kondisi atmosfer,” jelasnya.
Potensi Kabut Asap Masih Mengintai
BMKG bersama sejumlah instansi saat ini masih menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai salah satu upaya meningkatkan peluang turunnya hujan.
Meski demikian, Agvi mengingatkan potensi kabut asap masih dapat kembali terjadi.
Menurutnya, lokasi dan tingkat keparahan asap sangat bergantung pada keberadaan sumber kebakaran, kondisi atmosfer, serta arah dan kecepatan angin.
“Untuk lokasi dan tingkat keparahannya sangat bergantung pada sumber asap, kondisi atmosfer, serta arah dan kecepatan angin,” tutupnya.
Editor : Eddy Hardiyanto