RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Musim kemarau tak selalu identik dengan kekeringan yang menyulitkan. Bagi warga Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan, surutnya debit air sungai justru menjadi pertanda dimulainya tradisi yang paling dinanti setiap tahun, yakni bagagap.
Bagagap merupakan tradisi menangkap ikan secara beramai-ramai dengan turun langsung ke sungai saat air mulai dangkal. Tradisi turun-temurun ini terus dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat setempat.
Berbekal peralatan sederhana seperti tangguk, panahan ikan, hingga rinji atau rengge, warga berbondong-bondong menuju sungai begitu kabar air surut menyebar dari mulut ke mulut.
Salah seorang warga Desa Tebing Tinggi, Dila, mengatakan tradisi bagagap hanya bisa dilakukan ketika musim kemarau karena kondisi sungai yang dangkal memudahkan warga menangkap ikan.
"Kalau musim kemarau dan air sungai atau danau mulai surut, biasanya warga saling memberi kabar untuk mengadakan bagagap. Tradisi ini sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya," ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Tradisi ini tidak hanya menarik minat warga Desa Tebing Tinggi. Masyarakat dari desa-desa sekitar, seperti Desa Simpang Nadung, juga ikut ambil bagian sehingga suasana sungai berubah menjadi ramai oleh ratusan peserta.
Anak-anak, remaja, orang dewasa hingga para lansia tampak berbaur menyusuri aliran sungai yang mulai dangkal. Sorak-sorai dan gelak tawa pun pecah setiap kali ada warga yang berhasil mengangkat ikan dari dasar sungai.
Beragam jenis ikan air tawar khas Kalimantan berhasil diperoleh, di antaranya ikan haruan, baung, nila, adungan, hingga seluang yang memenuhi tangkapan warga.
Bagi masyarakat setempat, bagagap bukan sekadar berburu ikan untuk dibawa pulang. Tradisi ini juga menjadi ruang berkumpul, mempererat silaturahmi antarwarga lintas desa, sekaligus menjaga warisan budaya lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Editor : Eddy Hardiyanto