RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui aktivitas belajar-mengajar di Kota Banjarbaru. Kondisi ini mulai memaksa sejumlah sekolah melakukan penyesuaian demi melindungi kesehatan peserta didik.
Pantauan Radar Banjarmasin, Selasa (21/7/2026) pagi, kabut asap tampak menyelimuti kawasan Guntung Manggis dengan intensitas cukup tebal.
Merespons kondisi tersebut, SDN 2 Guntung Manggis langsung mengambil langkah antisipatif. Seluruh aktivitas yang biasanya dilakukan di luar ruangan untuk sementara dipindahkan ke dalam kelas, sementara protokol kesehatan diperketat.
Kepala SDN 2 Guntung Manggis, Aini Murliah Setyani, mengatakan kebijakan itu diterapkan sejak kabut asap mulai menyelimuti wilayah sekolah, meski tahun ajaran baru baru saja dimulai.
"Karena cuaca kurang kondusif, kegiatan yang biasanya dilakukan di lapangan seperti menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama setiap pagi kini kami alihkan ke dalam kelas," ujarnya.
Penyesuaian juga dilakukan pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Seluruh materi olahraga sementara dipindahkan ke dalam ruangan sambil menunggu kualitas udara membaik.
Menurut Aini, pihak sekolah terus memantau kondisi kabut asap setiap hari.
"Biasanya sekitar pukul 10.00 WITA asap mulai berkurang. Tapi kami tetap melihat kondisi di lapangan. Kalau kabut asap masih pekat, semua pembelajaran tetap dilakukan di dalam ruangan," jelasnya.
Selain membatasi aktivitas luar ruang, sekolah juga mengedukasi siswa tentang pentingnya memakai masker melalui poster-poster imbauan. Bahkan, sekolah menyediakan masker gratis bagi murid yang datang tanpa perlindungan karena belum dibekali orang tua.
Hingga saat ini, belum ada siswa yang dilaporkan sakit ataupun tidak masuk sekolah akibat paparan kabut asap. Tingkat kehadiran siswa masih normal.
Namun, dampak mulai dirasakan oleh beberapa tenaga pendidik.
"Sejauh ini anak-anak masih hadir seperti biasa. Justru beberapa guru mulai mengalami batuk dan pilek," ungkap Aini.
Ia berharap bencana kabut asap akibat karhutla dapat segera berakhir dan tidak kembali terulang. Menurutnya, anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terdampak paparan partikel asap.
"Harapan kami ini segera berlalu dan tidak ada lagi pihak-pihak yang membakar lahan. Kasihan anak-anak, keselamatan dan kesehatan pernapasan mereka yang paling utama," pungkasnya.
Editor : Eddy Hardiyanto