RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, AMUNTAI – Warga Kompleks CPS 2, Kelurahan Sungai Malang, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), kembali dibuat resah dengan kemunculan kawanan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Satwa liar tersebut kerap memasuki kawasan permukiman, memakan buah-buahan milik warga hingga mengacak-acak tempat sampah.
Menurut warga, kemunculan kawanan monyet bukanlah hal baru. Primata itu biasanya keluar dari kawasan hutan kecil di sekitar Sungai Malang saat musim kemarau bersamaan dengan musim buah.
Salah seorang warga, Yuni, mengatakan monyet menjadi lebih aktif ketika pohon mangga, jambu, dan tanaman buah lainnya mulai berbuah.
"Buah mangga, jambu, dan tanaman warga sering dimakan monyet. Sudah diusir dengan suara keras, tetapi mereka tetap kembali," ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Fadly. Ia menuturkan kawanan monyet memang sudah lama hidup di sekitar kawasan tersebut, namun belakangan frekuensi kemunculannya semakin sering sehingga mengganggu aktivitas warga.
Selain memakan buah, monyet juga kerap membongkar tempat sampah hingga sampah rumah tangga berserakan di lingkungan kompleks.
"Kalau sudah mengacak-acak sampah, warga harus bekerja dua kali untuk membersihkannya lagi," katanya.
Meski demikian, hingga kini warga mengaku belum pernah mengalami serangan langsung dari kawanan monyet. Mereka berharap ada langkah penanganan agar keberadaan satwa liar tersebut tidak semakin mengganggu lingkungan permukiman.
Menanggapi kondisi itu, anggota Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) HSU, Edy Saputra, mengimbau masyarakat tidak memancing agresivitas monyet.
Menurutnya, monyet ekor panjang umumnya tidak akan menyerang manusia selama tidak merasa terancam.
"Primata ini cerdas dan memiliki naluri melindungi kelompoknya. Jika diganggu, mereka bisa bereaksi. Karena itu, sebaiknya jangan memancing atau mengusiknya," jelas Edy kepada media ini, Minggu (19/7/2026).
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak sengaja memberi makan monyet. Kebiasaan tersebut justru dapat membuat satwa liar itu semakin sering mendatangi kawasan permukiman dan bergantung pada sumber makanan dari manusia.
Editor : Eddy Hardiyanto